
Ada satu malam yang sepi. Aku duduk di lantai kamar, di bawah lampu temaram. HP isinya notifikasi yang belum aku baca. Capek.
Dulu aku selalu nunggu ada orang yang bilang “kamu hebat ya udah sejauh ini”. Tapi malam itu nggak ada siapa-siapa. Cuma aku, sama pikiran yang rame.
Terus aku nulis di notes: terima kasih ya.
Terima kasih karena waktu itu kamu nggak nyerah pas semua orang sudah menyerah pada dirimu sendiri. Terima kasih karena kamu tetap bangun jam 6 pagi walau semalaman nangis. Terima kasih karena kamu milih diam, bukan meresponnya dengan kemarahan. Terima kasih karena kamu masih mau masak, masih mau kerja, masih mau ketawa walau hati lagi berantakan.
Aku baru sadar bahwa selama ini aku keras ke diri sendiri. Satu kesalahan kecil langsung dihakimi. Sekali gagal langsung dibilang payah. Padahal diri ini sudah jalan sejauh ini. Sudah menyembuhkan luka sendiri. Sudah belajar.
Jadi malam itu aku ganti pertanyaannya. Bukan kenapa aku belum cukup? tapi terima kasih sudah bertahan sejauh ini ya.
Sejak itu tiap aku jatuh, aku nggak langsung menghakimi. Aku berhenti sebentar, tarik napas, lalu berterima kasih pada diri sendiri. Ternyata mengucapkan terima kasih ke diri sendiri itu obat paling murah. Nggak butuh validasi dari siapa-siapa. Karena orang yang menemanimu dari awal sampai akhir ya kamu sendiri.




Leave a Reply