
Di awal semester baru, aku dapat amanah menjadi wali kelas dengan 16 nama di buku absen. Dari Aditya sampai Saiful, aku hapal semua. Siapa yang sering lupa PR, siapa yang kalau ditanya pasti menunduk, siapa yang suka izin ke WC tapi malah keliling sekolah, siapa yang nggak pernah piket, siapa yang aktif di OSIS, dan siapa yang jadi jago di Matematika.
Setahun itu rasanya cepat. Aku mengajar, marah, menasihati, dan mengingatkan. Mereka tertawa, diam, belajar, nangis, berantam, membuat karya, menghias kelas, dan mengikuti lomba bersama.
Oh ya, awal semester baru datang anak baru. Namanya Alif. Pindahan dari Bandung. Pendiam, sering lihat ke luar jendela. Anak-anak juga canggung. “Temenin ya, Alif anak baru,” kataku di depan kelas.
Pelan-pelan Alif mulai ikut. Dia mulai bergabung baik di kelas maupun aktivitas di luar kelas. Tulisan tangannya nggak banget. Sampai sekarang, aku masih belum bisa membantunya mengubah caranya menulis. Katanya kebiasaan. Cuma itu alasannya.
Di ujung semester, aku mendapat kabar bahwa muridku bernama Jaka pindah ke Medan ikut orangtua. Kelas langsung terasa sepi. Sebagai wali kelas aku jadi mikir. Ternyata nggak harus banyak yang pergi buat bikin kita ngerasa kehilangan. Cukup satu kursi kosong, satu nama yang nggak dijawab saat absen, itu udah cukup bikin kelas ini berubah.
Sekarang udah mau naik kelas IX. Murid datang dan pergi itu wajar. Tapi sebagai guru, tugas kita bukan menghitung siapa yang pergi. Tugas kita memastikan, selama mereka di sini, kelas ini jadi rumah kedua. Biar nanti pas mereka pergi, mereka membawa perasaan bahwa pernah disayang.
Murid datang dan pergi. Tapi ruang kelas ini tetap sama. Dindingnya masih ditempel hasil karya mereka. Papan tulisnya masih penuh coretan rumus. Dan aku? Aku tetap di sini. Menjadi orang yang pertama menyambut saat mereka datang, dan orang terakhir yang melambai saat mereka pergi. Tahun ini pun, aku mendapat amanah menjadi wali kelas lagi di ruang kelas yang sama.




Leave a Reply