
Toko Mathagia terkenal jual sembako paling lengkap di PT. Agricinal. Tapi yang bikin Mathagia jauh lebih terkenal adalah punya banyak pelanggan unik. Salah satunya seorang pelanggan yang selalu datang mengenakan baju kembang pelangi dengan bulu mata, bedak, dan lipstik yang tebal. Namanya cantik: Encut. Kami akrab dengannya.
Nama itu adalah panggilannya di kampung saat jadi biduan. Kombinasi outfit, dari kepala sampai kaki bikin semua kasir menoleh. Hari itu giliran Yola, si cerewet yang jaga kasir. Yola ketawa saat melihat Kak Encut bawa keranjang berisi beras, minyak, mie instan, dan pakan kucing.
“Cash atau bon Kak?” tanya Yola dengan mata yang memindai outfit Kak Encut dari atas sampai bawah. Kak Encut senyum. “Kenapa kau”? balasnya yang membuat Yola salah tingkah.
“Eh, cantik kali kakak,” kata Yola berusaha mencairkan suasana.
Aku hanya geleng-geleng kepala lalu tersenyum. Memang hobi Yola itu menjahili kakak itu. Perbincangan pun makin melebar, dari belanjaan ke kosmetik. Yola tanya di mana dia memasang bulu mata lalu memuji baju kuning cerah yang dipadukan dengan jeans ketat sobek-sobek sambil melirik ke arahku.
“Iya,mau kau? Beli di kampung aku,” jawab Kak Encut mantap. Sepertinya saling menjahili mereka ini.
Kak Encut pelanggan setia yang baik hatinya. Kami sering menitip jajanan saat dia pergi ke pekan. Lucunya, kalau Yola titip bakso pagi hari, dia sampai ke toko jam tiga sore. Langsung ngomel Yola.
Kakak ini sering belanja beras 5 kg dan 20 kg. Dasar Yola memang iseng, ditanya pula kenapa belanja beras sebanyak itu. “Iya lima kilo ini buat makan aku sama abang. Yang 20 kilo buat makan anjing kami,” jawab Kak Encut. Jawaban yang tidak kalah iseng.
Yola terdiam lalu menoleh ke arah kami seperti memberi kode. Kami tertawa semua dengan jawaban-jawaban Kak Encut. Selain lucu, Kak Encut juga suka lama-lama di kasir setelah transaksi. Dia suka menguping cerita kami di toko. Sambil bercanda, Yola sering mengusirnya tapi hebatnya Kak Encut ini selalu kembali dengan aura positif yang sama.




Leave a Reply