Bazar Tenera Capek Sekali!

Dok.Wikihow

Hhmmm kalau sudah masuk bulan Oktober kepala sedikit berdenyut. Banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebab, Sekolah Tenera kembali mengadakan bazar Sikola Kumpul Galo. Sudah dua kali kami mengadakan acara seperti ini.

Agak pusing karena semua pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu bersamaan, berbarengan dengan tugas lain seperti pembelajaran mendalam, zoom pemetaan materi di sekolah, dan Bulan Bahasa. Syukurlah PPG sudah selesai dan tinggal menunggu pengumuman. Semoga aku lulus.  Ya ampunnn, sudah bingung mana duluan yang mau dikerjakan. Walau sudah tahu capeknya, tetap saja dilakukan. Intinya semua ini bakalan berlalu.

Bazar tahun 2025 ini aku kebagian jadi salah satu koordinator tim gorengan dan keripik. Nah, untuk jualan gorengan umumnya orang-orang tahu bahwa modalnya besar sedangkan keuntungannya kecil. Tapi biasanya gorengan dicari banyak orang. 

Jadwal bazar dari jam dua belas siang hingga tujuh malam. Tapi nyatanya jam sepuluh pagi tim gorengan  harus sudah kumpul semua. Kami harus menyiapkan alat dan bahan. Kol dan wortel harus dipotong terlebih dahulu. Kalau bisa, jam dua belas siang sudah ada gorengan yang mateng.  

Kali ini peran anak lebih besar dalam belajar berwirausaha. Kami sebagai guru hanya mendampingi dan mengajari saja. Itulah alasan mengapa kami datang lebih awal karena untuk mengantisipasi respon dan tingkah anak-anak selama belajar. 

Ada yang membantu setelah itu pergi. Tak tampak lagi barang hidungnya sampai acara selesai. Tapi aku tetap kasih apresiasi untuk anak-anak Tenera yang super keren ini, walau capek tetapi mereka masih menghormati guru dan acara. Apalagi sang ketua tim, ketika anak-anak lain pulang jam lima sore, dia pulang bareng guru jam tujuh malam setelah evaluasi dan setoran hasil penjualan.

Siapa bilang jualan gorengan tidak capek? Jam sepuluh pagi harus sudah di sekolah. Meracik bumbu, potong-potong sayuran, ubi, pisang, tempe, dan banyak lagi kerjaan lainnya. Jam dua belas siang, anak-anak bergantian bagi tugas. Ada yang menggoreng, ada pula yang berkeliling menjajakan makanan. Jam enam sampai tujuh malam evaluasi. Setelah itu pulang, bersih-bersih terus tidur. Besoknya mereka mengulangi rutinitas.

Beda sedikit dengan kami guru-gurunya. Pulang bazar bersih-bersih, beres-beres rumah, baru lanjut tidur. Esoknya kirain bisa bangun siang, ternyata tetap saja bangun jam empat subuh, masak lanjut beres-beres rumah yang tidak sempat dikerjakan saat malam hari—aktivitas itu berlangsung sampai jam sembilan pagi.

Omset dari tim gorengan paling besar Rp700 ribu. Namun, yang mereka dapatkan tidak ternilai. Mereka mengolah banyak ilmu. Dari memproduksi gorengan, cara jual (promosi dan distribusi), belajar mengola emosi, dan yang paling oke adalah mendapatkan ilmu mengolah rasa capai.