
Hai teman-teman apa kabar semuanya…….
Kebetulan timku dagang bakso, soto, pop mie, dan kopi di Bazar Tenera Sikola Kumpul Galo 2. Bukan pengalaman pertama sih karena di bulan Agustus lalu kami sudah jualan dan Alhamdulillah mendapatkan keuntungan lumayan banyak. Dan biasanya menu paling laris adalah bakso atau pentol kuah. Kadang air belum ndidih, pembeli sudah mengantri.
Dua hari sebelum bazar, bakso dan bumbunya sudah kami buat. Pentolnya kami buat di rumah Bu Sudarwati, tempat nongkrong kami. Tim kami diperkuat Bu Deva, Bu Unis, Bu Wati dan, Lili. Bayangkan kalau harus mentol bakso sendiri dari 5kg daging dan harus dibentuk agak kecil, pasti nangis deh.
Berhubung kami keroyokan ditambah canda dan makan-makan, pekerjaan terasa lebih ringan. Bahkan bisa dibilang asyik karena setelah kami masak ikan asin, tempe dan lalapan—tidak lupa sambal terasi di atas gilingan batu, sumpah ini lebih nikmat di banding makan di restoran mahal kawan—setelah mentol.
Ketika jualan di Guest House, tempat acara bazar, ada saja kekurangannya. Entah seledri atau bumbu yang kurang dan harus diambil di rumah Wati. Nah, biasanya kami gantian pulang ke rumah Wati. Waktu itu giliranku. Biasanya pulang ke rumah Wati berdua tetapi hari itu aku pulang sendirian karena teman yang lain sedang sibuk. Aku ambil seledri di kulkas lalu cepat-cepat aku potong.
Dalam hati ada rasa khawatir. Bukan takut hantu atau pocong ya—ini rumah Wati kosong karena anak-anaknya juga ikut ke bazar—melainkan suaminya. Dalam hati aku bilang janganlah dulu pulang karena bayangkan saja suaminya datang lalu menemukan aku di rumahnya. Apa gak terkejut dia nanti. Ketika aku ceritakan sama Wati dia malah ketawa terbahak-bahak.
Bazar hari ke- 2 kami dirayu stand photobox. Alhasil kami berfoto tapi hasilnya hancur karena ketika kami baru mau klik, eee anak-anak sudah menelepon. Kuah habis, bakso habis,daun bawang habis, begitu mereka bilang. Karena hasilnya hancur kami tidak mau bayar dong karena yang hasil foto cuma gambar kaki, jempol, bahkan gigi yang kuning hahaha. Pak Jelin dan Bu Nindy ikut ketawa juga. Pokoknya heboh
Bazar hari yang ke-3 kami datang ke photobox lagi tetapi saat itu aku sesak napas. Bayangkan, kotak yang maksimal hanya muat tiga manusia dipaksa isi enam orang, emak-emak pula. Mending kalau langsing, lah ini berat badan di atas rata-rata. Di depan kami seorang anak SD mengipasi tapi tetap panas dan sumpek. Namun, di photobox itu sebenarnya menjadi kebahagian tersendiri. Kami sangat bahagia. Penuh teriakan, jambakan, saling menginjak kaki, cekikikan pokoknya.
Oh ya teman-teman, untuk sistem penjualan dan pelaporan hasil keuangan dikerjakan anak-anak tim dari SD-SMA. Kami salut karena mereka sangat bertangung jawab. Semoga kelak mereka menjadi anak-anak hebat sekaligus tangguh menghadapi persaingan dunia. Setidaknya. mereka paham bahwa untuk mendapatkan uang itu selalu ada proses panjang yang harus mereka lalui.




Leave a Reply