
Bicara Agustusan, tentang kemerdekaan, merah putih, dan kecintaan pada negeri untuk kita yang sudah berusia ini tidaklah terlalu penting. Namun juga tidak bisa ditinggalkan.
Sebagai ibu yang memiliki anak yang masih bocah, Agustusan masih harus dimeriahkan walau hanya sekadar mengibarkan bendera merah putih di depan rumah. Bila tidak si anak akan bertanya, “mengapa tahun kemarin kita mengibarkan bendera, sekarang belum juga di pasang Mak?” Apakah aku sebagai ibu bisa menjawab dengan kalimat seperti ini: mengapa mesti kita kibarkan? Sedangkan negara saja tidak memberikan perhatian pada kita. Tidak mungkin dilakukan karena daya cerna anakku belum sampai ke sana.
Dengan sedikit terpaksa menanamkan cinta walau negara ini tidak mencintai kita, pemasangan bendera di depan rumah dilaksanakan. Anakku bahagia karena setiap pulang sekolah melihat sang merah putih menyambutnya dengan lambaian kebahagiaan. Dan dia akan merasa bahagia dan bangga karena dia mulai mencintai negerinya.
Seremoni upacara bendera 17-an di tempat kerja aku anggap sama saja. Selaku orang tua di sekolah, aku guru Tenera sekadar sedikit menanamkan cinta pada siswa generasi muda bangsa agar mereka juga bisa mencintai Indonesia sampai tua. Kami tanamkan semangat 45 dengan semua aktivitas yang berkaitan dengan Agustusan dengan sedikit harapan mereka tidak mencontoh para tetua negeri yang membajak kekayaan alam dan budaya Indonesia untuk memperkaya diri sendiri.
Menanamkan cinta pada negeri ini sama sulitnya seperti menanamkan cinta pada sesama. Hubungan mutualisme itu pasti ada. Kebaikan yang kita tanam bila tidak berbalas kebaikan maka akan berhenti dengan sendirinya. Karena sejatinya manusia itu tidak hanya ingin mencintai namun juga ingin dicintai.




Leave a Reply