
Sebagai panitia perlengkapan, keamanan, dan parkir di acara Bazar “Sikola Kumpul Galo 2” di Guest House Sekolah Tenera, tugas saya jelas: segalanya harus rapi, aman, dan terutama parkiran tidak boleh kacau. Tapi semua itu mendadak buyar gara-gara satu hal: final bola voli putri antara Desa Suka Medan dan Desa Kota Bani.
Gimana enggak, pertandingan itu panas banget bukan cuma karena semangatnya, tapi juga karena tensinya bikin degdegan. Waktu masuk set penentuan, saya yang awalnya berdiri dekat area parkir tiba-tiba sudah ikut teriak-teriak di pinggir lapangan. Lupa total sama posisi mobil.
Tiba-tiba langit mendung, lalu hujan deras. Tapi bukannya bubar, penonton malah tambah semangat. Mereka nonton pakai payung, jas hujan, bahkan ada yang pakai daun pisang segala. Saya ikut-ikutan juga, karena siapa yang bisa cabut dari pertandingan seru itu, tapi ya itu dia masalahnya mobil-mobil baru berdatangan, motor makin berjejer.
Setelah pertandingan usai Desa Suka Medan menang dengan smash terakhir yang bikin jantung nyaris copot dan di saat bersamaan saya baru sadar bahwa parkiran sudah kayak tempat evakuasi bencana. Dengan celana basah kuyup dan sepatu becek, saya pun mulai operasi penyelamatan parkiran.
“Yang punya motor Beat biru, ini udah ngunci tiga motor sekaligus!” saya dorong-dorong motor, atur ulang mobil, dan minta tolong beberapa bapak-bapak buat bantu buka jalan.
Akhirnya, menjelang acara pembagian hadiah, parkiran sudah cukup rapi walau tidak bisa dibilang sempurna. Tapi yang penting, semua kendaraan bisa keluar dengan selamat, tidak ada yang terjebak selamanya di sana. Saya pun kembali berdiri dengan tenang di pinggir lapangan, walau basah kuyup dan ngos-ngosan, sambil senyum-senyum sendiri.




Leave a Reply