
Dua hari sebelum ujian, kepalaku pusing melihat tumpukan buku di rak. Betapa banyaknya buku yang harus aku buka dan pelajari dalam waktu singkat. Namun, di tengah kemalasan itu, di tengah kantuk itu, aku teringat untuk mempertahankan peringkat lima besar agar pindah sekolah nanti tidak buruk.
Tiba-tiba notifikasi HP berbunyi. Aku penasaran sehingga malah melihatnya lalu kehilangan fokus terhadap buku pelajaran. Jadinya aku hanya belajar penuh satu hari jelang ulangan sekolah.
Hari pertama ulangan aku melihat teman-teman sibuk. Ada yang menghapal, membaca ulang, sampai membuat contekan. Ketika pengawas memasuki ruang kelas suasana tambah tegang. Senyap. Semua siswa mematung bersiap menghadapi soal-soal yang dibagikan.
Aku membaca soal sambil berdebar kemudian mengingat rumus Matematika yang aku pelajari tadi malam. Tidak henti-hentinya pula aku berdoa. Pas sampai di bagian essay, aku malah bingung sehingga ada dua soal yang tidak aku jawab.
Tapi ya sudah tidak apa-apa. Aku lega ketika lonceng berbunyi, tanda ujian selesai. Aku keluar ruangan sambil tertawa lalu tos-tosan dengan teman-temanku di luar. Saat nilai ujian dibagi, ada beberapa pelajaran yang tidak sesuai ekspektasiku. Aku kecewa.
Namun aku sekarang sudah ikhlas dan tidak terlalu memikirkannya. Sekarang waktunya bermain tanpa memikirkan apa-apa lagi.




Leave a Reply