
Namaku Fasio, sandal jepit warna pink, ukuran 37. Aku tinggal di toko Mathagia, berdampingan dengan tas-tas manja ibu-ibu sosialita berbagai merk dan ukuran. Sehari-hari aku hanya bisa menatap pintu kaca toko, berharap suatu hari akan ada yang memilih dan membawaku pulang untuk kuajak melangkah kemana pun mereka mau.
Sampai suatu pagi di hari Senin bulan oktober, aku diangkat dengan tergesa. “Yang ini ikut ke bazar, ya”! tanya Rolina sambil memasukanku dalam karung. Jantungku hampir lepas dari solku. Aku? ke bazar? Apakah ini saatnya menemukan pemilikku?.
Begitu sampai di aula Guest House, tempat bazar diadakan, aku dijejer rapi di atas lantai stand. Di depanku terpampang tulisan besar “serba Rp35.000”. Harga yang mencolok sekaligus melukai hatiku. Aku, secantik dan sesegar bunga mawar ini, mengapa semurah itu?
Di sekelilingku, dunia tampak hidup: stand makanan dan minuman yang menggoda, tenda karya anak-anak, photo box juga stand bermain anak yang sudah ramai meski bazar belum resmi dibuka.
Hari Pertama: Gerak dan Gembira
Selasa, 14 Oktober 2025. Sudah pukul 12.30 WIB ketika Bu Opi, ketua yayasan yang ditemani Bapak Dirut dan Opung tersayang, membuka secara resmi bazar sekolah Tenera “Siko La Kumpul Galo2” diantar musik dan tawa yang memenuhi aula GH. Meski hanya bisa melihat dari stand paling ujung, tapi aku bisa merasakan semangat yang menjalari udara.
Selanjutnya acara lomba senam kreasi ibu-ibu PKK yang sangat meriah, empat peserta dari kecamatan Putri Hijau dan Marga Sakti Sebelat menari dengan penuh semangat, beberapa salah gerakan tapi tetap tertawa bersama.
Setelah senam, para pengunjung mulai berpencar. Ada yang langsung ke stand minuman dingin, ada yang mencicipi kue buatan siswa dan ada juga yang mampir ke bilik foto. Aku berharap salah satu dari mereka akan melirikku, tapi tak seorang pun berhenti.
Seorang ibu sempat mengangkatku, menekuk sedikit badanku, lalu berbisik,”Terlalu kaku” dan meletakkanku kembali. Aku tersenyum getir, mencoba menghibur diri, mungkin besok giliranku.
Hari Kedua: Ramai dan semakin seru
Aku melihat lebih banyak keseruan. Pengunjung terbagi dua, ada yang berkeliling di aula GH untuk mencari makanan sambil menikmati rangkaian acara serta melihat keseruan lomba menggambar dan mewarnai anak TK dan SD, ada juga yang menonton keseruan perlombaan voli ibu-ibu antardesa di lapangan. Meski aku tidak bisa menonton langsung keseruan yang terjadi di lapangan tapi suara peluit wasit dan riuh para suporter, cukup membakar semangatku.
Semakin ramai pengunjung, semakin sibuk para penjaga stand. Ada murid yang kewalahan melayani pembeli, khususnya di stand minuman, suara Bu Nur beradu dengan suara hantaman es batu. Ada juga guru yang dengan sabar mengajari siswanya menghitung kembalian. Ada pembeli yang sangat pemilih, membolak-balik tas di rak tapi tak ada satu pun yang menyentuhku.
Hari Ketiga: Harapan Baru
Sore itu, Desi, karyawan baru toko Mathagia memindahkanku ke lapangan, aku kembali bersemangat. Bersama anak-anak SD Tenera yang beberapa hari ini terasa dekat denganku, kami sama-sama memiliki harapan bahwa hari ini akan berjalan baik.
Aku melihat bazar dari sudut lain di lapangan. Empat tim voli bertanding dengan sengit, saling-mengejar poin. Sesekali penonton berteriak mendukung jagoan masing-masing. Selesai pertandingan aku dikemas lagi lalu kembali ke aula.
Hari Keempat : Ceria namun Lelah
Hari itu aku mulai lelah. Suara merdu dan goyangan dari ibu-ibu PII di panggung tak mampu mengembalikan semangatku. Aku mulai bertanya tanya. Apakah aku terlalu pink, terlalu polos, ketinggalan zaman, terlalu murah hingga semua melewatkanku.
Aku mulai iri. Ya, aku iri pada es krim, anak-anak mengerubunginya seperti semut pada gula. Bahkan gorengan yang hanya dibungkus kertas di tenda Bu Vidya lebih populer dariku. Sementara aku hanya berdiam diri di lantai, bersih, utuh, tak diinginkan.
Hari Kelima: Usai tapi Berarti
Hari terakhir bazar. Aku sudah berhenti berharap. Tapi anehnya hari itu aku tidak merasa sedih lagi. Aku mulai melihat sesuatu yang lain. dari tempatku, aku menyaksikan kerja sama yang indah antara anak-anak dan guru Tenera. Mereka tertawa, lelah, berkeringat namun tetap ramah.
Aku melihat anak-anak belajar tentang berwirausaha, tentang menghitung, tentang gagal dan mencoba lagi. Aku mendengar teriakan riang dari peserta lomba, tawa pengunjung, bahkan tangis kecil anak TK Tenera yang belum berani tampil di panggung.
Aku juga melihat sesuatu yang membuat suasana semakin hangat. Di tengah riuhnya bazar, Opung Boru datang dengan senyum lembut dan tatapan penuh kasih. Beliau berkeliling setiap tenda, menyapa satu per satu anak dan guru dengan ucapan yang menenangkan.
Tanpa banyak bicara, Opung mulai memborong dagangan anak-anak dan guru, bukan karena membutuhkan barang-barang itu, tetapi karena ingin memberi semangat dan apresiasi atas kerja keras mereka. Saat itu, aku benar-benar melihat makna kasih sayang yang tulus dalam bentuk yang sederhana namun begitu dalam.
Saat hujan turun di sore sabtu, 18 Oktober 2025 dan bazar berakhir, aku dikemas kembali. Kali ini bukan dengan harapan tinggi untuk dibeli, tapi dengan hati yang lebih ringan. Aku sadar meski tak berpindah kaki, aku telah berjalan jauh.
Aku telah menjadi saksi dari cerita-cerita hangat yang tumbuh di tempat ini. Mungkin aku tidak laku tapi aku tidak gagal karena lima hari yang penuh warna ini sudah cukup membuatku berarti.




Leave a Reply