
Oktober lalu Sekolah Tenera mengadakan bazar bertema “Siko La Kumpul Galo” yang kalau diartikan tema tersebut berarti ‘sini kumpul bersama’. Bazar itu merupakan langkah awal menuju sekolah sociopreuneur yang belakangan sedang digalakan di Tenera dengan berbagai program dan kegiatan pendukung lainnya.
Di awal muncul banyak keraguan diikuti tanda tanya. Apakah bazar ini akan memenuhi target? Apakah bazar akan ramai? Apakah menu makanan dan bahan yang kami jual akan laris? Bagaimana jika hujan deras menyapu halaman kantor Kecamatan?
Namun semua keraguan itu terpatahkan karena bazar yang berlangsung dari tanggal 16 sampai 19 Oktober 2024 di lapangan kantor Kecamatan Putri Hijau itu sukses besar.
Selama empat hari, guru Tenera beralih profesi dari pahlawan tanpa tanda jasa menjadi pedagang. Sebuah pengalaman yang membuat kami mengalami gegar budaya. Situasinya cukup aneh, karena menghadapi para pembeli—terlebih dengan munculnya pepatah pembeli adalah raja—berbeda dengan siswa. Kurang ramah bisa membuat dagangan tidak laku meski berkualitas.
Contohnya di stand bermain anak. saya menemui pengunjung yang bikin naik darah. Dengan biaya masuk yang relatif murah yaitu Rp10 ribu, masih saja ada pengunjung yang nyolot.
“Mahal sekali sih Bu, Rp10 ribu. Padahal di pantai saja masuk istana bola juga Rp10 ribu. Di sini cuma main bola dan pasir.” Ada juga yang sengaja memberi ‘ultimatum’ ke anaknya. “Kamu mau main di sana atau mamah belikan es krim?”
Bukan berarti pengunjungnya semua menyebalkan yah, beberapa juga sangat menyenangkan. Apalagi ibu-ibu pengunjung peserta lomba senam. Demi tampil damai tentram tanpa rengekan anak, mereka menitipkan buah hatinya ke stand kami dengan waktu yang cukup lama.
Stand makanan paling ramai dikunjungi. Menu mie gacoan yang viral itu menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya pengunjung, kami penjaga stand setiap hari harus berburu nomor antrian agar tidak kehabisan. Bazar memang bikin kami jadi melebar. Tidak hanya perut tetapi juga hati.




Leave a Reply