
Dulu aku tidak takut melihat mayat. Memegangnya pun berani. Mayat itu aneh menurutku. Tubuhnya dingin dan kurus. Lalu wajahnya pucat tirus. Namun, sejak pandemi datang, aku tidak berani lagi mendekati mayat.
Saat itu hari Minggu. Aku jalan-jalan ke PIG bersama abang dan saudara. Kami pulang agak malam, mungkin sekitar jam delapan kurang sedikit. Saat sampai rumah kami melihat orangtua lagi video call dengan beberapa orang tua di kampung halamannya.
Aku cuek saja. Langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih lalu ganti baju. Setelah beres, bapak memanggilku. Katanya Opung di kampung mau bicara padaku tetapi aku menolaknya dengan lembut. Sebab, aku merasa orang itu bukanlah opungku sesungguhnya.
Kemudian datanglah peristiwa yang tak disangka-sangka. Selang beberapa menit dari momen penolakan itu, opung yang sedang bicara itu meninggal dunia. Mendengar kabar itu aku langsung lemas. Ternyata, permintaan terakhirnya adalah bicara denganku.
Aku merasa bersalah dan kejadian itu terus membayangiku. Setelah itu aku takut melihat mayat. Aku juga jadi takut melihat orang tua sakit. Itulah peristiwa yang mengubah hidupku.




Leave a Reply