
Aku masih ingat hari ketika pemerintah mengumumkan COVID-19 telah menyebar ke seluruh negeri. Hari itu penuh kabar duka. Banyak teman dan kenalan pergi mendahului kami. Di tengah kengerian itu aku membayangkan hidupku dan keluarga ke depannya.
Aku yang tinggal di perkebunan kelapa sawit merasa terpenjara dalam sangkar. Hidup terasa mencekam. Situasi menjadi menegangkan ketika mendengar kabar banyak teman kehilangan pekerjaan dan harta benda.
Sekolah diliburkan. Tak ada aktivitas, mati. Anak-anak belajar di rumah. Entah benar belajar atau tidak tetapi ada selentingan beberapa siswa ikut membantu orangtua di lahan. Sungguh brengsek Covid itu. Anak-anak jadi kehilangan haknya untuk belajar di sekolah.
Namun, bukan Tenera namanya kalau hanya pasrah dan berpangku tangan. Pihak sekolah membuat kebijakan penting. Kami harus masuk kemudian membuat program untuk para murid yang masih belajar di rumah. Berbagai cara kami tempuh agar anak-anak bisa sekolah lagi.
Kami membuat tugas untuk anak anak lalu dikirim melalui pesan grup. Kami sebagai guru mengunjungi anak didik di Afdeling untuk memeriksa pekerjaan mereka satu minggu sekali. Selain itu kami juga melakukan pengajaran di sana.
12 Afdeling kami datangi menggunakan truk sekolah. Jalan setapak berlumpur kami lintasi dengan hati-hati. Sungai deras kami seberangi dengan sedikit cemas dan gemetar. Namun, ketika bertemu para murid di kampung-kampung mereka, kami digulung perasaan bahagia.
Kami sama-sama berjuang untuk masa depan sampai hari ini. Harapanku semoga pandemi tidak terulang. Semoga hidup kami aman dan sejahtera. Semoga kami berumur panjang sehingga terus mendampingi anak-anak belajar.




Leave a Reply