Mudik yang Hangat dan Haru

Dok. Wikihow

Liburan Lebaran tahun ini saya mudik ke kampung halaman tercinta: Lampung. Menurut saya mudik selalu menjadi hal yang ditunggu. Sebab kita akan bertemu dengan saudara-saudara yang jarang kita jumpai. Ajang itu merupakan waktu yang tepat untuk mempererat tali silaturahmi.

Orangtua ayahku tinggal nenek sedangkan dari pihak ibuku masih lengkap tapi sudah tua renta. Sehingga, kami fokus menjaga mereka agar tidak kecapaian selama merayakan Lebaran. Kami beres-beres, masak, menyapa tetangga, dan bergotong royong. Momen-momen hangat di desa itu akan terus kami rindukan.

Di Lampung suasananya agak sunyi dipayungi mendung. Tanah lembab. Takbir di pagi hari raya terasa syahdu, membuatku haru. Aku berangkat lalu pulang salat ied mengendarai sepeda motor jadul mbahku. Terasa sekali tahun 90an di sana. Hangat dan nyaman sekali.

Selepas salat kami sungkem ke anggota keluarga yang lebih tua kemudian makan opor ayam ditemani kerupuk dan kuah santan kaya rempah. Itulah makanan wajib keluarga kami saat hari raya. Setelah itu kami keliling kampung, silaturahmi ke rumah saudara tercinta.

Mungkin kemarin itu Lebaran terakhir sehingga aku sangat menikmati setiap detailnya. Setiap hal-hal kecil yang terjadi, mulai dari makanan sampai komunitas penutur Jawa yang terasa sangat, huh adem sekali.