
Setiap pagi, sebelum sampai ke kantor, aku selalu melewati jalan itu. Jalan yang di sebelah kirinya berbatasan langsung dengan pembibitan. Hamparan bibit kecil berjajar, hijau, teratur seperti barisan yang tahu tempatnya masing-masing. Aku suka melihatnya.
Entah kenapa, setiap melewati jalan itu, napasku terasa lebih panjang. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Mungkin karena di sana semuanya terlihat rapi. Tumbuh dalam pola. Tidak saling menyerobot. Tidak berantakan.
Berbeda dengan isi kepalaku yang sering riuh. Hari-hari sebelumnya, aku hanya lewat. Melihat dari luar. Cukup itu saja sudah menenangkan. Sampai pagi itu datang.
Seperti biasa, motorku melambat saat melewati sisi pembibitan. Mataku mencari barisan hijau yang biasa menyambut. Tapi yang aku lihat lebih dulu justru bukan bibit. Sampah berserakan di beberapa sudut. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak.
Pemandangan yang bagi orang lain mungkin biasa saja tapi bagiku seperti bising yang tertinggal dalam kepala. Ada dorongan kuat untuk berhenti, turun, memungut satu per satu. Mengembalikan semuanya ke posisi yang seharusnya. Dan hari itu aku memutuskan berhenti. Aku turun dari motor, mendekat masuk ke area pembibitan ingin memastikan bahwa di dalam sana tetap rapi seperti yang aku bayangkan.
Tapi langkahku terhenti di depan pagar duri. Pagar itu rapat. Tidak ada celah untuk masuk. Bahkan sekadar menyelipkan tangan pun tidak bisa. Aku berdiri di sana cukup lama. Menatap ke dalam. Menatap diriku sendiri yang tiba-tiba terasa terjebak di luar ketenangan. Aneh rasanya.
Setiap hari aku melewati jalan ini, mencari rasa damai dari sesuatu yang rapi. Tapi pagi itu, ketika benar-benar ingin mendekat, justru ada batas yang tidak bisa aku lewati. Kepalaku mulai penuh lagi. Riuhnya datang pelan-pelan.
Aku sadar bukan cuma sampah itu yang membuatku sesak tapi juga kenyataan bahwa aku tidak selalu bisa memperbaiki hal-hal yang mengganggu. Tidak semua kekacauan bisa kurapikan.Tidak semua pagar bisa kubuka. Akhirnya aku mundur pelan. Kembali ke motorku. Kembali ke jalan yang akan aku lewati lagi besok dan besoknya lagi. Pembibitan itu tetap di sana: rapi di beberapa sisi berantakan di sudut lainnya.




Leave a Reply