
Anak itu tinggal di sebuah rumah kecil bersama orangtuanya. Dia anak pertama dari dua bersaudara. Mulanya, dia takut gelap. Ketika malam datang, saat listrik di kampungnya dimatikan, ia pasti gemetar.
Dunia tanpa cahaya adalah musuh besar di tengah keluarga yang dingin itu. Baginya, pagi adalah harapan. Yang sempat menghangatkan, memberinya kekuatan.
Sebuah peristiwa besar membuat pandangan sang anak terhadap gelap berubah. Kini ia sangat nyaman dan aman di tengah gelap. Sebab, gelap melindunginya dari kejamnya dunia. Gelap menyembunyikan kesedihan sang anak. Gelap, melindunginya dari pertanyaan-pertanyaan saat air matanya jatuh.
Sekarang sang anak tak lagi gemetar menunggu pagi. Sebaliknya, ia berharap pagi tak pernah datang. Sebab, cahaya selalu memperjelas luka. Cahaya memperlihatkan dunia sesungguhnya. Dunia yang telanjang. Penuh bentak dan caci tak berperi. Dunia yang penuh kesenjangan dan penderitaan.




Leave a Reply