
Nanti kita ketemuan ya, di Plaza dekat hotel aku. Dresscode-nya burgundy.
Begitu isi pesan singkat yang dikirim Bu Nur. Aku yakin pesan ini juga dia kirim untuk teman geng lainnya seerti Bu Juni, Miss Vidia, Bu Anik, Pak Tonggo, Pak Wiwin, dan Pak Teguh. Sekarang kami ada di Singapura. Kami berlibur, santai, dan me time.
Kami menginap di sebuah hotel mewah. Menyewa kamar luas dilengkapi mini bar dan balkon yang menghadap ke pantai. Tidak perlu repot mencuci baju karena Kang loundry datang setiap hari. Tidak perlu masak karena koki andal tersedia di sana. Anak-anak diasuh dan diasah tenaga profesional.
Lalu kami ngapain? Kami kerja seadanya dan hangout ke sana-sini sesuka hati. Ya, seperti hari ini kami membuat janji temu di plaza dekat hotel. Agendanya belanja dan makan sepuasnya. Aku dari semalam sudah scroll Channel yang terbaru. Hari ini aku memutuskan membeli tas dan sepatu saja.
Dari jam delapan pagi, asisten sudah sibuk membantu memilih gaun yang akan aku pakai hari ini. Mereka cukup hati-hati dalam memilih aksesoris agar setiap kain yang melekat di tubuhku makin tidak ternilai. Aku mematut diri di depan cermin dan sepertinya ada yang kurang. Hhmmm ternyata kacamata hitam super glossi belum terpasang. Kurang rompi bulu dan parfum Clive Cristian dengan aroma floral. Oke pas sudah.
Aku naik Porsche hari ini. Tak berselang lama usai memarkir mobil di parkiran super VVVIP aku bertemu Bu Anik yang baru turun Rolls-Royce nya. Kami menuju Cafe Chef Wan. Sesekali kami melirik ke toko kosmetik yang kami lewati.
Ketika kami tiba di cafe, Pak Teguh tampak sedang bercerita disambut tawa Bu Juni, Bu Nur, dan Pak Tonggo. Aku dan Bu Anik langsung bergabung lalu nimbrung dengan obrolan disusul Miss Vidia yang baru kembali dari toilet. Tak lama Pak Wiwin juga baru sampai dan ikut bergabung setelah meletakkan kunci Ferrari-nya di atas meja.
Kami tertawa seru sekali karena membahas hal-hal yang akan kami beli nanti. Tak lupa mengatur schedule acara seru-seruan selanjutnya. Tiba-tiba terdengar salam yang Indonesia banget.
Assalamu’alaikum…
Kami serentak menjawab lalu menoleh ke sumber suara. Ternyata Pak Wahyu dengan baju batik coklat khas Tenera dan celana dasar hitam muncul di depan pintu, membawa catatan kecil dan uang lembur. Seketika pula kami kembali ke Agricinal dengan kecepatan yang menyamai cahaya.
Aaakkhh buyar sudah lamunan kami barusan. Tadi kami sedang membahas tugas menulis dari Tukang Kebun Nyalanya bertema stress release. Jadi kami cerita sambil menghayal. Semua buyar saat Pak Wahyu datang. Namun, semua tetap bahagia karena dapat uang lembur.




Leave a Reply