Pencari Cuan Musiman

Dok.Wikihow

Perayaan 17 Agustus, sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia, merupakan momen yang meriah dan penuh warna setiap tahunnya. Tahun ini kebetulan saya ditunjuk menjadi koordinator wirausaha untuk mengumpulkan cuan dengan maksimal. 

Dengan penuh semangat kemerdekaan, saya dengan tim merancang apa yang akan kami jual. Kami sepakat menjual berbagai kudapan yang disukai banyak orang dan tentu target utama kami adalah anak-anak. Biasanya orangtua akan sulit menolak jika anak sudah merengek membeli.

Di puncak perayaan HUT RI ke-80 saya benar-benar mencurahkan tenaga dan waktu mempersiapkan semua dengan maksimal. Saya sudah berkutat dengan semua persiapan sejak pagi buta. Begitu matahari menunjukkan wajahnya, saya dan tim sudah siap untuk tayang.

Dengan hati gembira saya dan tim menyusun semua menu di atas meja. Ada nasi kuning, nasi rames, sate, bakso, aneka kue, jajanan anak, dan minuman. Saya membagi tim untuk bertanggung jawab dengan satu jenis jualan. Dan saya kebagian untuk menjual aneka kue. Satu persatu pembeli datang, antri, dan saya masih bisa melayani mereka dengan senyum ceria. 

Namun, setelah upacara pengibaran bendera selesai, saat itulah saya benar-benar seperti orang gila. Tiba-tiba dikerumuni banyak pembeli. Mereka tidak sabar, rebutan dilayani. Saya kewalahan dan tim  yang lain juga mengalami hal sama.

Keringat saya bercucuran lalu dalam hati berdoa agar semua orang jujur, membayar apa yang mereka ambil. Sebab, saya tidak bisa lagi memperhatikan siapa yang sudah bayar dan belum. Untung bantuan segera datang, kalau tidak saya bisa pingsan di tengah kerumunan.

Walau kami—para penjual musiman—meraup keuntungan dengan maksimal, berjualan itu penuh tantangan. Kenapa? Sebab kesabaran kita diuji saat beraneka karakter pembeli datang. Apakah aku jera? Tentu tidak. Ibarat makan cabai, walau pedas tapi kita tetap memakannya. Begitu juga saya walau capek dan lelah tetap semangat mencari cuan eeeaaaa.