Pengalaman Pertama Masuk Hutan

Dok. Wikhow

Tidak pernah terpikir olehku masuk ke dalam hutan. Apalagi belajar membuat konten di dalam sana. Hutan Sebelat adalah pengalaman pertamaku.

Aku masih ingat betapa kotornya sepatu dan celana yang melekat di badan ini. Bukan karena lumpur melainkan aku kurang memperhatikan medan di sana, kurang mengerti bagaimana melewati tanah setapak penuh lumpur.

Ya, jalan setepak itu membuat tubuh harus seimbang. Jalan menanjak menghabiskan tenaga sehingga tubuh cepat kelelahan. Tapi, di balik itu aku mengagumi pepohonan tua di kiri dan kanan jalan setapak dalam hutan itu.

Pepohonan memberi udara segar sekaligus meneduhkan para pejalan. Tumbuhan liar dan ilalang buatku mempercantik hutan yang kemarin aku masuki.

Saat itu jalan tiba-tiba menurun, tanda kami hampir tiba di tempat tujuan. Tempat tujuan kami sangat menakjuban. Sungai kecil di hadapanku saat itu menarik perhatian kami untuk segera bemain air. Pepohonan di sana tak henti-hentinya memberi kesejukan. Aku menyukainya dan seperti ingin tinggal lama di sana.

Namun, waktu memaksa kami pulang. Perjalanan menuju rumah tidak seberat ketika masuk hutan. Terasa lebih mudah karena jalannya hanya menurun. Itulah pengalaman pertamaku masuk hutan yang tak akan pernah aku lupakan.

Aku juga mau bilang terima kasih pada semua guru karena sudah mengundang Kak Nadya Gianifa dan Kak Wili ke Tenera. Sebab, karena mereka aku menjadi lebih berani untuk memulai sesuatu dan mencoba konsisten menjalani setiap pilihan hidupku.