Rindu Pak Basuki dan Cerita Kebumen

Dok. Wikihow

Saya Mustahidin, sudah lebih dari 17 tahun mengabdi sebagai guru. Waktu terasa cepat sekali berlalu, dari kapur tulis sampai spidol, dari OHP sampai LCD.

Sekarang saya mengajar fisika di SMA Tenera, sekolah yang saya cintai. Kadang saya suka tertawa sendiri ketika mengingat masa silam. Dulu saya duduk manis di bangku sekolah, sekarang justru berdiri di depan kelas sambil menjelaskan hukum Newton ke siswa yang sibuk menghitung sisa baterai HP mereka.

Bila mengingat masa sekolah dulu rasanya campur aduk, antara senang, kangen, dan pengen balik jadi anak kecil lagi. Sekolah Dasar (SD) adalah masa paling berkesan: pulang sekolah kaki penuh debu, seragam bau matahari, dan pikiran cuma soal main. Tidak ada tugas Google Classroom dan ujian online, yang ada hanya PR tulis tangan dan hukuman berdiri saat lupa bawa buku.

Guru favorit saya waktu SD adalah Pak Basuki. Beliau dari Kebumen, Jawa Tengah. Bersama beliau, sekolah terasa seperti taman bermain. Saya sering bermain kelereng, karet, dan gambaran saat pulang sekolah. Uniknya, karena kediaman Pak Basuki dekat dengan tempat tinggal saya, saya sering menginap di rumahnya.

Rasanya punya guru sekaligus orangtua kedua. Setelah main, makan bersama lalu besok paginya berangkat sekolah bareng.

Yang paling unik, ceritanya tentang asal-usul Kebumen selalu bikin kami tertawa. Katanya, nama Kebumen berasal dari kisah kerbau yang sedang menstruasi di zaman dahulu. Entah bagaimana ceritanya, tapi itulah kiasan khas Jawa Tengah versi beliau.

Kami rindu sosok guru seperti Bapak Basuki. Guru yang disegani sekaligus disayang. Bukan guru yang justru diobok siswanya. Semoga nilai dan keteladanan beliau tetap hidup di hati kami, para murid yang kini telah menjadi guru juga.