Risiko Anak Ngantukan

Dok. Wikihow

Dua hari sebelum Lebaran aku bersama keluarga mudik ke Bengkulu. Kami mau hari terakhir puasa sudah bisa berkumpul bersama dengan keluarga di sana. Barang yang kami bawa cukup banyak sedangkan perjalanan ke sana menggunakan motor.

Hampir semua barang aku dan mamarku (saudara, kakak) yang bawa pakai motor matic. Sebab bapak dan ibu menaiki motor kopling. Pegal sekali rasanya menggendong tas yang besarnya melebihi tubuhku. Mamarku sepertinya tahu betul rasanya sehingga sepanjang jalan dia menghiburku dengan bernyanyi.

Mamarku terus mengajak ngobrol agar aku tidak ngantuk karena aku ini orangnya gampang ketiduran saat sedang menempuh perjalanan. Entah naik motor atau mobil, aku gampang sekali ngantuk. Nah pas tiba di rumah nenek, baru bisa balas dendam. Aku langsung tidur beberapa detik setelah menaruh tas.

Singkat cerita, Lebaran datang. Jam lima subuh sudah sibuk semua karena pukul 06.30 WIB kami harus berangkat ke masjid menunaikan salat ied. Di masjid aku kembali mengantuk karena banyaknya pidato tentang zakat dari ketua panitia. Syukurlah kantuk itu masih bisa aku kontrol.

Rumah nenek sudah ramai dengan anak-anaknya ketika kami pulang dari masjid. Mereka sungkem, minta maaf sambil menangis. Mungkin karena banyak salah hehehehe, keluar semua air mata mereka. Begitulah kisah liburanku, terima kasih sudah membaca.