Sahabat atau Teman Baik Cuma Konsep?

Dok.Wikihow

Dulu aku nggak percaya dengan konsep sahabat atau teman dekat. Ketika ada yang memperkenalkanku dengan seseorang lewat kalimat, ‘dia ini sahabatku’, aku datar-datar saja. Buatku tidak ada yang spesial dengan konsep teman akrab atau apalah namanya.

Teman yang teman buatku. Tidak kurang tidak lebih. Mereka datang dan pergi. Datang saat ada perlu kemudian pergi setelah urusannya selesai. Aku sudah kenyang dengan hal begitu. Apakah itu persoalan yang lebih ke akunya? Dengan kata lain tak pandai bergaul dan lain sebagainya? Aku masa bodoh cenderung enggan mencari tahu.

Kelas 7 SMP pandanganku geser sedikit. Suatu ketika aku bertemu seseorang yang aneh. Sok dekat begitu dengan orang-orang. Aku sering bergumam dalam hati, apaan sih nih orang dekat-dekat melulu deh dan paling juga nggak lama. Bentar lagi pasti menghilang. Begitulah gumaman ketika dia mengajak ngobrol.

Namun, sampai semester dua, dia tidak pergi. Tidak simsalabim menghilang. Anehnya setiap hari kebekuan dalam hatiku mencair sedikit demi sedikit. Ada kehangatan menjalar ketika duduk bareng atau bermain dengannya. Saat aku susah dia bahkan membantu tanpa minta imbalan. Saat bersamanya waktu juga terasa cepat.

Dari sanalah pandanganku tentang konsep sahabat dan teman dekat berubah. Konsep itu nyata adanya dan ak merasakannya sendiri. Ketika lulus kami mengambil sekolah berbeda. Aku masih di Tenera. Dia berpetualang ke tempat baru. Namun kami masih sering berbincang lewat telepon dan selalu bertemu saat liburan.