Satu Langkah yang Menumbuhkan Keberanian dan Harapan

Hari itu mentari mulai menunjukkan kehangatannya. Jarum jam di kamarku berjalan menuju pukul 10.15 WIB. Aku bergegas, bersiap menjalani hari. Aku Nindy, seorang guru berusia 25 tahun yang mengajar di sekolah Tenera. Hari itu sebenarnya tak seperti biasanya karena berangkat kerja siang hari.

Hari itu sebuah bazar akan digelar kembali oleh sekolahku. Sikola Kumpul Galo namanya. Bazar itu bukan kali pertama di Tenera. Di balik perkebunan sawit yang rindang dan tenang, di situlah kami mengadakan indahnya pembelajaran yang dikemas dalam bazar sekolah selama dua tahun berturut-turut.

Aku menyetop motor  di parkiran Guest House Sopo Uluan PT Agricinal. Sudah banyak orang ke sana kemari, sibuk. Stand tersusun rapi, didominasi warna putih yang memberi kesan terang dan tenang. Bapak ibu guru bersama siswa dan siswi di setiap stand tampak siap bertempur hari itu. 

Setiap stand: makanan, minuman, toko Mathagia, PT. Agricinal, karya siswa dan siswi, permainan, bilik foto punya keunikan sendiri. Setiap tenda tertata rapi dan menarik. Begitulah bazar ini, tempat perayaan kreativitas dan ajang belajar siswa-siswi Sekolah Tenera.  

Sama seperti guru lainnya, aku juga bertanggung jawab membimbing anak-anak. Tahun ini di stand photo box. Kami berusaha sepenuh hati supaya stand kami ramai didatangi pengunjung. “Ayo Bu, Kak, foto di stand kami. Dijamin fotonya bakal cantik. Bisa cetak juga loh,” tawar anak-anak di standku pada pengunjung dengan semringah. 

Aku tersenyum, mereka ramah sekali. Awalnya malu-malu, bahkan berpikir bahwa tidak akan ada yang mau untuk datang ke stand kami. Tugasku menyemangati mereka dan memberikan sedikit trik merobohkan tembok ketakutan itu. Dan… yap, tenda kami ramai dengan pengunjung. Aku lihat anak-anak senang dan makin semangat. 

Stand makanan dan minuman tak kalah sibuk. Tangan mereka cekatan untuk memberikan pesanan pada pengunjung. Ada yang membakar sosis, ada yang membuat jus, ada pula yang melayani pembayaran dan pemesanan. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing. Melihat itu aku bangga sekali, membayangkan suatu saat nanti mereka akan menjadi lebih mandiri, kreatif, dan berani merancang nasib mereka sendiri. 

Di tengah pemandangan itu, para MC di atas level GH yang disulap menjadi panggung menyedot perhatian.

Selain belajar mandiri dan berwirausaha, para siswa juga diajak tampil untuk melatih kepercayaan diri dan menampilkan bakat serta minat mereka. Panggung adalah tempat mereka berekspresi dan berkolaborasi. Salah satu penampil adalah tim tari dari SD Tenera yang aku bina. Sebelum tampil, situasi di belakang panggung bak sinetron karena salah satu penari belum datang. Nomor tidak aktif. Pesan tidak terkirim.

Jantungku berdetak kencang saat membayangkan kemungkinan terburuk. Namun, lima menit sebelum pentas, seorang anak berlari ke arahku dengan kostum tari, yang mana dia adalah yang kami tunggu-tunggu. Uhh, akhirnya aku bisa bernapas lega. 

Detik-detik MC memanggil tim tari, aku masih belum sepenuhnya bernapas lega karena pertunjukan itu adalah pentas pertama sebagian anak-anak dalam tim tari. Mereka memandangku, mengisyaratkan kecemasan.  “Tidak apa-apa nak, Bu Nindy percaya kalian pasti bisa. Tampilkan yang terbaik menurut kalian ya. Jangan lupa senyum,” kataku sambil melempar senyum. 

Alunan musik terdengar. Dengan senyuman dan rasa percaya diri mereka mulai bergerak. Gerakannya serempak, energinya menular selaras dengan musik yang semangat. Kostum warna-warni mereka berputar, menciptakan visual yang memukau. Suara riuh penonton dan tepuk tangan mulai terdengar. GH meledak dengan keriuhan penonton saat puncak tarian. Aku merasa bangga sekali. Bukan soal hasilnya, melainkan pada proses mereka sampai berdiri di atas panggung. 

Kami kembali sibuk di stand masing-masing usai selesai menari. Dari tenda, terdengar banyak yang menghibur pengunjung dengan suara emasnya. Suasana tetap meriah, tak menurun sedikit pun.

Sore datang. Matahari terus bergeser ke arah barat. Pengunjung semakin sedikit. Setiap anggota stand mulai merapikan seluruh perlengkapannya kemudian bersiap mengevaluasi jalannya kegiatan. Sebelum evaluasi mereka menghitung pendapatan lalu merancang strategi untuk kegiatan berikutnya.

Pada evaluasi itulah perubahan sangat terlihat. Pertama kali mereka bahkan masih takut-takut untuk berbicara dan menyatakan pendapat. Lalu setelah beberapa hari berlalu, keberanian muncul seiring berjalannya waktu. Senang sekali melihat perubahan positif yang terus terjadi setiap harinya. 

Di bawah langit gelap kami pulang. Kami tidak hanya membawa lelah. Kami membawa pulang benih kemandirian yang siap tumbuh menjadi pohon keberanian yang kokoh, menjulang tinggi, dan siap menaungi masa depan.