
Hai Anik. Aku adalah dirimu dari tahun 2024. Aku banyak melihat dan memantau masa remajamu. Aku tahu semua keraguan dalam setiap langkahmu, yang pada akhirnya melahirkan penyesalan. Perasaan ganjil yang membuat hidupmu lebih keras, jauh dari angan-angan remaja.
Hidupmu saat ini jauh lebih beruntung dibanding teman-teman seusiamu. Uang jajanmu Rp10 ribu, lebih besar dari teman-temanmu yang rata-rata hanya Rp3 ribu sampai Rp5 ribu. Apalagi setelah bapak menjual hasil kebun, uangnya bisa mentraktir teman satu kelas.
Namun, aku tahu nasib baik itu berjalan beriringan dengan tekadmu terhadap pendidikan. Aku bangga karena kau mampu meyakinkan orangtua untuk mengizinkanmu melanjutkan SMA di kota ketimbang di pesantren.
Di sinilah awal mula aku ingin memakimu.
Aku ulangi, bahwa kau adalah manusia yang beruntung dari segi apa pun. Uang jajanmu saat SMA Rp1 juta per bulan. Fantastis bukan? Mengingat kebutuhanmu sebagai pelajar belum terlalu banyak dan kau tidak menjadi anak indihome. Kau sudah menggunakan kendaraan roda dua, tidak pernah merasakan naik angkutan umum. Kau bahkan sudah mempunyai laptop sejak kelas 2 SMA, padahal saat itu belum terlalu dibutuhkan di sekolah.
Laptop itu kau gunakan untuk berselancar di Facebook, menonton film di Youtube atau dari kaset DVD yang kau sewa dari rental. Namun, semua keberuntungan itu nyatanya membuat kau terlena dan bermalas-malasan. Seandainya kau lebih giat belajar, barangkali rapormu tidak merah padahal sejak SD kau selalu juara kelas. Saat di kota dan jauh dari orangtua, nilaimu hancur.
Tahukah kau, orangtua kita saat itu bekerja keras di desa untuk keberhasilanmu. Mereka banting tulang untuk memenuhi kebutuhanmu, melengkapi kekurangan sehingga kau fokus belajar.
Kau tidak begitu peduli dengan cita-cita setinggi bintang di langit. Keinginan masuk universitas negeri? Ah, itu hanya omong kosong. Mana bisa nilai yang hancur itu bersaing dengan manusia-manusia keren di luar sana. Bahkan kamu sudah diizinkan untuk les di luar jam sekolah agar bisa masuk universitas impian. Uang pendaftaran sudah di tangan tetapi malah putar badan, memilih hidup santai.
Seandainya saja kau berusaha lebih keras waktu itu, pendidikanmu tidak akan kalah dengan yang lain. Aku tidak menyalahkan universitas tempat di mana kamu mendapatkan gelar sehingga mengantarmu menjadi guru seperti impian bapak tetapi setidaknya kau bisa menggunakan golden ticket sebaik-baiknya.
Setelah semua keputusan yang kau ambil, kehidupan yang sekarang jauh lebih keras dari anganmu bukan? Kau baru belajar mandiri setelah bekerja. Kau tidak bisa lagi bermalas-malasan. Ingin merengek pun malu. Satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjalani hidup sekuat mungkin disertai syukur terus menerus.
Semua sudah berlalu. Sekarang teruslah berproses dan bertumbuh dengan versimu. Pesanku, jangan plin-plan atau ragu-ragu untuk apa pun itu. Setiap keputusan yang diambil punya risiko sendiri. Bukankah hidup memang serangkaian perjalanan panjang penuh makna sehingga kita tinggal memaknai saja setiap kejutan dalam alur riwayat berkelok ini.




Leave a Reply