
Halo perkenalkan nama saya Kurnia Salsabila Puspita. Saya dan keluarga sempat tinggal di sebuah desa yang terletak di lereng Merapi. Waktu itu orangtua saya bekerja sebagai pedagang sayur. Mereka sering ke pasar untuk jualan sehingga saya dan adik sering ditinggal di rumah sendirian.
Sering ditinggal orangtua ke kota melatih mental kami. Saya dan adik dikenal sebagai saudara pemberani. Namun, ada ada beberapa peristiwa yang mampu melucuti keberanian kami. Salah satunya adalah suara misterius di kebun Pak Sahar.
Hari itu kamis. Hari melelahkan bagi saya dan adik sebab kami pulang sekolah sore hari. Angkot,satu-satunya transportasi bagi, kami nyaris tak bersisa saat hari sudah mendekati senja. Sehingga hari itu saya dan adik pulang jalan kaki melewati kebun-kebun di kaki Merapi.
Hari semakin sore ketika kami melewati kebun punya Pak Sahar. Udaranya berubah ketika kami melewatinya, sedikit berat dari sebelumnya. Mungkin karena sebentar lagi matahari tenggelam, begitu pikirku dalam hati. Namun, belum usai perasaan ganjil itu saya mendengar seseorang memanggil nama saya dari dalam kebun.
Kami menghentikan langkah sejenak. Memastikan dari mana datangnya suara yang cukup nyaring itu. Namun, adik bilang tidak mendengar apa pun. Perasaan saya jadi tidak enak sehingga kami mempercepat langkah pulang. Belum ada sepuluh langkah dari sana, sekarang adik yang berhenti. Dia bilang ada yang memanggil namanya berulang kali.
Kami ketakutan. Wajah kami pucat. Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Kami mau lari dari sana tetapi langkah kaki menjadi berat. Di momen aneh itu Pak Aji, salah seorang tetangga desa menyalip kami dengan sepedanya. Syukurlah, seruku dalam hati. Kami panggil dia lalu minta antar sampai ke rumah.
Kami cerita pengalaman horor itu pada orangtua setelah sampai di rumah. Awalnya mereka tidak mau cerita tetapi bujukan adik berhasil bikin bapak buka suara. Bapak cerita, dahulu kebun Pak Sahar itu tidak angker. Namun, setelah ditemukannya jasad seorang perempuan di dekat sana, banyak kejadian aneh yang terjadi di kebun Pak Sahar.
Ibu melanjutkan cerita. Mungkin, duga ibu, arwah perempuan itu tidak tenang karena meninggal secara tidak wajar. Kabarnya perempuan itu adalah korban rudapaksa dan pembunuhan. Cerita itu membuat kami ngeri sekaligus lebih waspada ketika suatu hari kembali melewati kebun Pak Sahar.




Leave a Reply