
Saya seorang guru di SDS Tenera, PT. Agricinal. Setiap pagi, sebelum mentari muncul sempurna, saya sudah bersiap dengan kendaraan andalan: Supra Fit kesayangan. Meski usianya tak lagi muda dan sering rewel, motor ini masih setia menemani perjalanan menuju sekolah.
Setiap pagi saya menyalakan motor. Kadang menyala dengan baik, tapi lebih sering mogok dulu. Kalau sudah begitu saya harus mendorong motor beberapa meter. Warga sekitar sudah hapal dengan rutinitas itu. “Pak guru olahraga pagi ya?” canda salah satu tetangga. Saya hanya bisa tersenyum sambil menahan napas.
Setelah berjuang sekuat tenaga, akhirnya motor bisa menyala. Namun hambatannya belum berakhir. Jalan menuju sekolah cukup ekstrem, apalagi di musim hujan seperti sekarang. Jalanan licin dan becek, sementara motor saya sering bermasalah dengan air.
Suatu pagi, hujan deras turun tanpa jeda. Saya tetap nekat berangkat karena hari itu jadwal saya padat. Di tengah perjalanan, motor tiba-tiba mati saat melewati genangan. Ternyata bak busi kemasukan air. Saya terpaksa berteduh, membongkar busi dengan peralatan seadanya lalu mengeringkannya. Tangan sudah kedinginan, baju basah kuyup, dan perasaan mulai campur aduk antara kesal dan lucu.
Setelah beberapa percobaan, akhirnya motor hidup kembali. Rasanya seperti menang undian! Meski tubuh basah dan lelah, saya tetap melanjutkan perjalanan. Saat tiba di sekolah, murid-murid sudah menunggu di halaman. Salah satu dari mereka menyapa, “Pak, motornya mogok lagi ya?” Saya tertawa kecil lalu menjawab “Iya, tapi semangat gurunya masih jalan terus!”
Lucu memang, tapi di balik semua itu ada rasa haru. Teman-teman sering menyarankan saya untuk mengganti motor, tapi saya selalu jawab, “Selama Supra Fit masih bisa dibetulkan, saya tetap pakai.” Bagi saya, bukan soal motor atau hujan, tapi soal tanggung jawab dan cinta pada pekerjaan.
Saya percaya, seorang guru harus bisa memberi contoh. Meski jalannya tidak selalu mulus, dengan kesabaran dan ketekunan, semua akan sampai pada tujuannya. Begitu pun saya setiap pagi: meski harus mendorong motor, menembus hujan, dan menghadapi mogok di jalan, saya tetap berangkat dengan senyum karena saya tahu, ada anak-anak yang menanti di kelas, dan itu cukup jadi alasan untuk terus melangkah.




Leave a Reply