Trauma Diguncang Gempa

Dok. Wikihow

Halo perkenalkan namaku Tia. Tulisan ini tentang gempa bumi yang terjadi di Bengkulu sekitar sepuluh sampai 20 tahun lalu.

Andai bisa kembali ke masa itu, aku tidak tidak ingin menjadi anak yang mudah panik dan penakut. Aku ingin menjadi anak yang sabar, berani, dan rasional. Anak yang logis dan tidak mengedepankan perasaan. Seorang anak yang tenang, bukan anak yang suka menangis dan menjerit.

Banyak gempa bumi yang membuatku trauma. Salah satunya gempa besar di Bengkulu tahun 2000. Saat itu saya masih duduk di kelas 2 SD. Desa tempat tinggal saya belum terjamah listrik saat itu. Kami masih memakai lampu petromak atau lampu sentir untuk penerangan. Asapnya bisa menghitamkan hidung jika tidak segera dibersihkan pagi harinya.

Gempa itu terjadi malam hari. Gemuruh datang tepat pukul 23.38 WIB diikuti getaran yang menggentarkan tanah. Gempa sebesar 7,9 SR dengan episentrum di Pulau Enggano itu membuat saya histeris sekaligus ketakutan. Di tengah kegelapan dan guncangan itu saya berusaha keluar kamar. Hiasan dinding berjatuhan ke lantai. Saya memekik ketakutan tetapi berusaha menguatkan diri dengan meraba dinding mencari jalan keluar.

Pajangan keramik berjatuhan mengenai kepala. Pecahannya melukai saya. Kaki berdarah. Di tengah kekacauan itu, samar aku melihat orangtua menggendong adikku yang masih kecil sembari mencari senter penerang. mereka berusaha membuka pintu depan. Aku menguatkan otot-otot kakiku yang sobek lalu berjalan membuka jendela agar cepat keluar.

Gemuruh dan kekacauan itu kembali kami rasakan tahun 2007. Kekuatannya juga sangat besar, 8,4 dan 7,8 SR. Peristiwa itu terjadi sebelum gelap, tepatnya jam enam sore. Aku masih ingat jelas setiap fragmennya karena saat itu sedang bermain lempar batu dengan adik di halaman rumah.

Gemuruh itu datang setelah sepersekian detik setelah teriakan ibu yang menyuruh kami mandi. Tanah bergoncang, naik turun dan rasanya seperti lompat-lompat di atas trampolin. Saya berlari menarik lalu menggendong adik kemudian berpegangan pada pohon pepaya di halaman rumah.

Tetangga kami histeris. Rumahnya rata dengan tanah. Menurutku itu rumah terbagus di desa kami pada saat itu. Sementara itu tetangga depan rumahku keluar dari rumah dengan badan penuh sabun dan shampo pada rambutnya, tanpa sehelai pakaian di tubuhnya. Ia berlari menuju jalan aspal—untung saja tidak ada kendaraan yang melintas. Suaminya mengejar lalu dengan cekatan menutupi tubuhnya dengan handuk.

Setelah gempa terjadi hal yang kami takutkan adalah tsunami karena jarak pantai dari pemukiman penduduk tidak jauh. Ketika sirine gempa belum terpasang, kami mengungsi ke tempat lebih tinggi. Banyak pula yang berkumpul di lapangan desa Air Muring yang berada tepat di depan rumahku. Mereka membuat tenda tenda darurat karena takut dengan gempa susulan.

Di saat itulah bencana sosial datang. Banyak aksi pencurian, dari barang-barang berharga hingga hewan ternak terjadi karena mayoritas warga beserta keluarga pergi meninggalkan rumah. Penjarahan juga banyak tejadi. Di Simpang Air Muring pernah terjadi penjarahan bahan pokok makanan karena seluruh aktivitas berhenti total. Keluargaku belum bisa ikut membuat tenda dan mengungsi karena bapak saat itu sedang bekerja jauh dari rumah. Seingatku warga tidur di tenda sampai dua bulan karena takut gempa susulan yang lebih besar.

Beberapa hari kemudian truk yang mengangkut batuan datang dari pemerintah. Bantuan itu berupa satu paket ember besar berisi selimut yang biasanya dipakai di rumah sakit, beras, terpal, tali tambang, gula, minyak, dan lain sebagainya. Para warga datang berduyun duyun ke kantor desa, berdesak-desakan tak mau antri mengambil bantuan. Di tengah situasi serba sulit itu masih ada saja warga yang curang. Sudah dapat bagian tetapi mengatakan pada petugas belum dapat.

Gempa susulan sering datang dalam satu hari. Namun, kami diwajibkan masuk sekolah. Walaupun bangunan sekolah ambruk, dinding ruang kelas retak, kami tetap belajar seperti biasa. Aku  pada saat itu duduk di kelas 9 SMP. Kelas kami dipindah ke laboratorium komputer. Saat sedang serius belajar, tiba-tiba datang gempa susulan dengan kekuatan besar. Kami heboh, berlari sambil teriak keluar lab. Ada pula beberapa kawan menangis karena trauma.

Jantungku berdebar tak keruan. Rasanya mau copot. Langit-langit ruangan banyak yang ambruk. Tidak sedikit kawanku luka dan lecet karena terjatuh di lantai. Saat itu kakiku lemas, tidak dapat bergerak. Peristiwa gempa di masa lalu, di ruangan gelap itu menyandera kakiku. Rasanya sulit sekali menggerakannya. Kawan sebangku menarikku tetapi karena pintu sulit dibuka, kami hanya mampu berlindung di bawah meja.

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tulis tentang gempa bumi yang sering menyapa Provinsi Bengkulu karena berada tepat di pertemuan tiga lempeng tektonik: Indo-Australia, Eurasia, Pasifik yang selalu bergerak. Biasanya bila kita bicara gempa atau dalam bahasa bengkulunya itu ngupek’i maka gempa akan datang walaupun sebentar.

Gempa itu terjadi malam hari. Gemuruh datang tepat pukul 23.38 WIB diikuti getaran yang menggentarkan tanah. Gempa sebesar 7,9 SR dengan episentrum di Pulau Enggano itu membuat saya histeris sekaligus ketakutan. Di tengah kegelapan dan guncangan itu saya berusaha keluar kamar. Hiasan dinding berjatuhan ke lantai. Saya memekik ketakutan tetapi berusaha menguatkan diri dengan meraba dinding mencari jalan keluar.

Pajangan keramik berjatuhan mengenai kepala. Pecahannya melukai saya. Kaki berdarah. Di tengah kekacauan itu, samar aku melihat orangtua menggendong adikku yang masih kecil sembari mencari senter penerang. mereka berusaha membuka pintu depan. Aku menguatkan otot-otot kakiku yang sobek lalu berjalan membuka jendela agar cepat keluar.

Gemuruh dan kekacauan itu kembali kami rasakan tahun 2007. Kekuatannya juga sangat besar, 8,4 dan 7,8 SR. Peristiwa itu terjadi sebelum gelap, tepatnya jam enam sore. Aku masih ingat jelas setiap fragmennya karena saat itu sedang bermain lempar batu dengan adik di halaman rumah.

Gemuruh itu datang setelah sepersekian detik setelah teriakan ibu yang menyuruh kami mandi. Tanah bergoncang, naik turun dan rasanya seperti lompat-lompat di atas trampolin. Saya berlari menarik lalu menggendong adik kemudian berpegangan pada pohon pepaya di halaman rumah.

Tetangga kami histeris. Rumahnya rata dengan tanah. Menurutku itu rumah terbagus di desa kami pada saat itu. Sementara itu tetangga depan rumahku keluar dari rumah dengan badan penuh sabun dan shampo pada rambutnya, tanpa sehelai pakaian di tubuhnya. Ia berlari menuju jalan aspal—untung saja tidak ada kendaraan yang melintas. Suaminya mengejar lalu dengan cekatan menutupi tubuhnya dengan handuk.

Setelah gempa terjadi hal yang kami takutkan adalah tsunami karena jarak pantai dari pemukiman penduduk tidak jauh. Ketika sirine gempa belum terpasang, kami mengungsi ke tempat lebih tinggi. Banyak pula yang berkumpul di lapangan desa Air Muring yang berada tepat di depan rumahku. Mereka membuat tenda tenda darurat karena takut dengan gempa susulan.

Di saat itulah bencana sosial datang. Banyak aksi pencurian, dari barang-barang berharga hingga hewan ternak terjadi karena mayoritas warga beserta keluarga pergi meninggalkan rumah. Penjarahan juga banyak tejadi. Di Simpang Air Muring pernah terjadi penjarahan bahan pokok makanan karena seluruh aktivitas berhenti total. Keluargaku belum bisa ikut membuat tenda dan mengungsi karena bapak saat itu sedang bekerja jauh dari rumah. Seingatku warga tidur di tenda sampai dua bulan karena takut gempa susulan yang lebih besar.

Beberapa hari kemudian truk yang mengangkut batuan datang dari pemerintah. Bantuan itu berupa satu paket ember besar berisi selimut yang biasanya dipakai di rumah sakit, beras, terpal, tali tambang, gula, minyak, dan lain sebagainya. Para warga datang berduyun duyun ke kantor desa, berdesak-desakan tak mau antri mengambil bantuan. Di tengah situasi serba sulit itu masih ada saja warga yang curang. Sudah dapat bagian tetapi mengatakan pada petugas belum dapat.

Gempa susulan sering datang dalam satu hari. Namun, kami diwajibkan masuk sekolah. Walaupun bangunan sekolah ambruk, dinding ruang kelas retak, kami tetap belajar seperti biasa. Aku  pada saat itu duduk di kelas 9 SMP. Kelas kami dipindah ke laboratorium komputer. Saat sedang serius belajar, tiba-tiba datang gempa susulan dengan kekuatan besar. Kami heboh, berlari sambil teriak keluar lab. Ada pula beberapa kawan menangis karena trauma.

Jantungku berdebar tak keruan. Rasanya mau copot. Langit-langit ruangan banyak yang ambruk. Tidak sedikit kawanku luka dan lecet karena terjatuh di lantai. Saat itu kakiku lemas, tidak dapat bergerak. Peristiwa gempa di masa lalu, di ruangan gelap itu menyandera kakiku. Rasanya sulit sekali menggerakannya. Kawan sebangku menarikku tetapi karena pintu sulit dibuka, kami hanya mampu berlindung di bawah meja.

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tulis tentang gempa bumi yang sering menyapa Provinsi Bengkulu karena berada tepat di pertemuan tiga lempeng tektonik: Indo-Australia, Eurasia, Pasifik yang selalu bergerak. Biasanya bila kita bicara gempa atau dalam bahasa bengkulunya itu ngupek’i maka gempa akan datang walaupun sebentar.