
Tahun 2025 kemarin berat dan penuh misteri. Tak terduga. Banyak hal—suka dan duka—yang terjadi secara tiba-tiba tanpa diprediksi.
Pertengahan tahun 2025, tepatnya bulan Juli, saya mendapatkan kebahagiaan. Putraku yang ke-2 telah menyelesaikan belajarnya, sah mendapat gelar ”sarjana”. Momen itu kami rayakan dengan haru. Air mata dan tawa bahagia orangtua yang bertahun-tahun jadi saksi, penyokong, sekaligus penguat perjuangan anak-anak mereka campur jadi satu.
Setelah mendapat gelar sarjana para lulusan sibuk mencari lowongan pekerjaan. Kadang membuat putus asa kalau tidak dibarengi dengan rasa sabar. Ada yang baru lulus sudah langsung mendapatkan pekerjaan. Ada pula yang bertahun-tahun mencari tetapi belum menemukan apa yang diharapkan. Semua memang kembali ke rezeki masing-masing. Semoga para pencari loker tetap semangat dan optimis.
Akhir bulan November, duka menyelimuti sekolah Tenera. Kepala sekolah SD Tenera kembali ke haribaan Sang Khaliq. Rasanya belum percaya. Waktu terasa cepat berlalu, menyisakan banyak kenangan. Sampai sekarang kami masih merasa kehilangan sosok pemimpin yang mempunyai sikap disiplin. Selamat jalan Pak, semoga tenang di sana.
Belum kering rasanya air mata ini, awal bulan Desember, saya kehilangan kakak kandung. Dia bukan sekadar kakak karena bagi saya dia adalah pengganti orangtua. Selama ini dia selalu sehat, tidak pernah sakit. Fakta itu yang membuat saya begitu kehilangan dan kadang rasanya tidak percaya. Makin sedih dan pedih karena kepergiannya bertepatan dengan hari kelahiranku. Kehilangan, bukan kado yang saya harapkan.
Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima segala amal ibadahnya, dan ditempatkan di tempat yang sebaik-baiknya. Aamiin.
Kehilangan orang-orang yang kita kasihi memang begitu menyakitkan namun kita tidak boleh larut dalam kesedihan karena hidup harus tetap berjalan. Dari rentetan peristiwa itu saya merefleksikan hidup seperti ini: perjalanan manusia ada batasnya dan setiap jiwa yang hidup pasti akan kembali kepada-Nya.




Leave a Reply