Gara-Gara Zombie

Merry ND

Saat pertama kali dunia dihebohkan dengan Covid-19 di Wuhan, suamiku sedang berada di Shanghai. Aku mulai galau memikirkan suami. Setiap hari minta video call untuk memantau keadannya. Dia menggambarkan Shanghai seperti kota mati, sedikit mencekam seperti film “Residen Evil”. Aku mulai berpikiran liar, membayangkan orang-orang yang terinfeksi virus jadi zombie lalu jalan-jalan di tengah kota yang sepi itu.

Dok Youtube Nivelon

Ternyata yang membayangkan zombie tidak hanya aku saja. Keanu, anak keduaku juga demikian. Suatu malam itu dia bilang kulit tangannya terkelupas seperti ular. Aku cek dan ternyata benar. Aku intereogasi dia, apa saja yang dilakukan seharian, main ke mana, lalu cuci tangan pakai apa. Dengan polos dia pun bercerita.

“Keanu tidak berani ke kamar mandi nanti ada zombie masuk dari celah dinding jadi Keanu cuci tangan di tempat cuci piring pakai sabun lemon, kadang-kadang pakai detergen mama yang di dekat mesin cuci,” jawab Keanue.

Ah, pantas saja terkelupas soalnya cuci tangan pakai detergen. Aku nasihati Keanue bahwa zombie itu hanya ada di film-film dan sebelum masuk rumah harus cuci tangan dengan sabun di keran samping rumah. Keesokan harinya Keanue menurutinya, sebelum masuk rumah dia cuci tangan dengan sabun di keran. Sepedanya juga ikut dicuci. Teras samping banjir, sabun sebotol pun habis. Mau ngomel apa daya, jawaban Keanu benar, katanya biar bersih dari virus.



Genre: Nonfiksi

Tema: Covid-19