
Orangtua sering menasihatiku agar tidak tidur larut malam. Aku bandel, ketika yang lain sudah tidur aku malah masih sibuk dengan segala urusanku dalam kamar. Semua berubah ketika mendapat mimpi buruk yang setiap babaknya masih aku ingat sampai sekarang.
Malam itu seperti malam-malam yang lain. Keluargaku sudah tidur sementara aku masih main. Rasa kantuk baru datang ketika malam sudah mencapai puncaknya alias sangat larut. Setelah berdoa aku merebahkan tubuh di kasur dan tiba-tiba aku sudah berada di sekolah.
Sudah banyak teman-teman yang berkumpul di sekolah. Aku ikut bergabung lalu bermain bersama sebelum lonceng berbunyi. Tiba-tiba awan hitam datang, menutupi langit biru. Angin menjadi sangat dingin. Saat mau masuk kelas tiba-tiba kami dicegat zombie. Wajah mereka menakutkan. Tubuh mereka penuh luka. Dan yang menyeramkan adalah mereka terus mendekati kami.
Aku dan teman-teman melarikan diri tetapi mereka terus mengejar kami. Aku dan temanku bersembunyi di semak-semak. Kami berusaha menutup mulut rapat-rapat, tidak bersuara agar para zombie menakutkan itu tidak menemukan lalu memakan kami. Aku bersembunyi sampai ketiduran dan tiba-tiba aku sudah berada di tempat lain, sebuah perkotaan, tepat di persimpangan lampu merah.
Di sana tidak ada zombie. Banyak orang berlalu-lalang mengenakan pakaian aneh. Mereka tiba-tiba berhenti lalu memandangiku dengan aneh. Wajah-wajah pucat itu menyisir tubuhku, dari ujung kaki sampai rambut. Tubuhku gemetar ketakutan dan entah bagaimana tiba-tiba aku terbangun. Bajuku basah keringat. Tubuhku juga masih gemetar. Setelah menenangkan diri aku berdoa dan berjanji tidak akan tidur larut malam lagi.




Leave a Reply