Mengaguminya secara Ugal-ugalan

Dia adalah seorang teman yang aku kagumi sejak masuk ke jenjang SMA. Di hari pertama masuk sekolah, senyum tipisnya sudah membajak mata dan hatiku. Sejak saat itu aku memberanikan diri mendekatinya.

Aku mulai dengan percakapan sederhana lewat chat ketika di rumah. Aku berhati-hati dalam memilih kata, pertanyaan, dan emoticon agar dia tidak tersinggung atau sakit hati selama percakapan.Responnya cukup bagus. Saat kolom WhatsApp kasih tahu dia sedang mengetik, jantungku selalu berdebar kencang.

Ada kalanya aku overthinking. Apakah kehadiranku mengganggunya?  Apakah dia risih dengan chatku yang selalu menanyakan dirinya? Apakah dia akan menjauh ketika tahu aku mengaguminya secara ugal-ugalan?

Sebenarnya di awal tulisan saya bohong bilang mengaguminya sejak masuk SMA. Saya kagum sejak SMP. Dulu kami pernah dekat tetapi aku difitnah seseorang sehingga muncul konflik. Aku gelisah sekali, terus mencari cara meminta maaf. Namun aku urungkan niat itu karena kan aku difitnah seseorang.

Sejak konflik itu aku merasa kesepian. Biasanya di sekolah ditegur eh ini tidak lagi. Akhirnya aku berdamai dengan diriku sendri lalu mencari cara melupakannya. Aku berdamai hingga masuk sekolah SMA saat kembali bertemu dengannya. Kembali mendapat senyum tipisnya.