Seperti namanya, cinta monyet cinta anak zaman bahelak. Melihatnya saja hati sudah bahagia apalagi sempat duduk dan makan bareng di kantin sekolah, wooow banget pastinya.
Monyet suka melompat ke sana kemari dengan suara riuh. menandakan bahwa mereka sedang bergembira. Seperti juga diriku yang jatuh ke dalam cintanya si monyet. Riuh dan gembira lah ya.
Usia yang masih imut, kelas 4 SD. Masih duduk di Sekolah Dasar. Ingus pun masih meler, tetapi pikiranku tentang lawan jenis sudah tumbuh di masa itu. Mungkin sebagian orang akan mengatakan kanji, ganjen, atau apalah aku tidak peduli. Yang aku tahu melihat dia hatiku senang. Rasa bahagia itu bertambah apalagi bila guru menyuruhku duduk satu bangku dengannya. Wow banget seperti mendapat durian runtuh.
Anaknya yang pintar, ramah, dan tidak memilih teman–bahasa jawanya humbl–membuatku kagum sekagum-kagumnya dengannya. Dia juga orang yang mampu membantahku dalam menjawab pelajaran sekolah waktu itu. Semakin komplit rasa ini. Perhatian sederhananya membuat jari-jari tanganku menari-nari sendiri.
“Sudah makan Nyet? kalo belum, makan puyuh goreng yok,” ajaknya. Itu kalimat sekaligus ajakan termanis yang susah dilupakan. Walau dia tidak pernah mentraktirku makan di kantin tetapi bila jajan bareng dia perut rasanya gak kenyang-kenyang.
“Main ke rumahku yok.” kalimat sekaligus ajakan kedua yang aku sukai. Walaupun banyak teman yang ikut main ke rumahnya, tetapi hati selalu senang bila ikut diajak main bareng ke sana. Selain dia, target buah-buahan di taman depan rumahnya adalah pusat perhatian penuh.
Namun sekarang dia hanya tinggal kenangan. Empat tahun silam terdengar kabar bahwa beliau mengidap kanker dan berpulang setelah dua minggu aku mendapat kabar itu. Terima kasih teman termanis kecilku. Kenangan indah yang baik-baik akan selalu aku kenang karena aku tahu tidak akan memilikimu selain kenangan tentangmu.
Husnul khotimah. Itu doa yang kupanjatkan buatmu saat ini. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik seperti kamu memberikan kenangan manis buatku.




Leave a Reply