Untuk pertama kalinya aku ungkapkan rasa penuh makna di tulisan ini untuk seseorang yang aku sebut cinta pertama. Menatap matanya membuatku menjadi lebih kuat dari biasanya. Suaranya membuatku selalu tak ingin ke mana-mana.
Ketika suara dengan nada tinggi dia ucapkan membuat hatiku bergetar hebat. Ini tidak seperti biasanya karena dia adalah sosok laki-laki yang tidak pernah marah padaku.
Sejak saat kami tidak sering berjumpa, hanya pesan singkat yang aku terima. Kadang hanya 10 menit berbicara itu pun karena kebaikan dari provider yang memberikan gratis telepon ke sesama operator. Seandainya saja aku mengganti nomor HP mungkin kami tidak akan pernah bisa bertegur sapa walau pesan yang aku terima hanya sekadar kalimat “Jaga diri baik-baik”.
Berbicara dengannya membuat perasaanku lebih baik. Bebanku terasa lebih ringan dari berat sebenarnya. Pertemuan yang selalu aku nantikan setelah banyak waktu terlewatkan tanpa bersama pun terasa lebih bermakna dan terkesan segera berlalu.
Aku lihat putaran jam dinding. Terasa lebih cepat dari biasanya. Nyatanya, aku saja yang terlalu mencintainya. Pada akhir cerita, apa yang tidak bisa pergi apa yang tidak bisa berpisah. Keputusan terbaik sudah diambil. Memilih untuk mengikhlaskan adalah jalan terbaik, sudah waktunya!
Merindu menjadi pilihan seumur hidup. Mengenang masa-masa itu menjadi keputusan yang harus segera diakhiri karena ternyata hidup penuh dengan persimpangan dan tikungan yang tajam. Sepanjang jalan akan terasa lebih licin jika beban masa lalu terus dibawa.
Teruslah tampak sehat dan bahagia di depanku.




Leave a Reply