Semua berawal dari permusuhan yang berubah menjadi rasa suka. Mengingatnya membuatku bahagia bercampur kesal.
Saat itu aku masih kelas 6 SD. Kami punya seorang ketua kelas yang bernama Andreas. Anaknya songong, sok tegas, dan cerewet. Aku sangat membenci dia karena jiwa kepemimpinannya yang otoriter dan orangnya pandir.
Suatu hari ketika guru yang mengajar mata pelajaran MTK tidak masuk, kami diberikan tugas mengerjakan latihan soal. Suasana kelas tanpa guru membuat kami agak sedikit ribut. Ketua kelas mulai patroli sambil memegang mistar kayu untuk menabok kaki apabila ada yang ke sana-kemari.
Saat itu aku berpindah tempat duduk karena ingin meminjam penghapus dengan salah satu temanku. Tiba-tiba mistar kayu melayang ke kakiku. Sontak aku terkejut lalu menangis. Sejak saat itu aku mulai membencinya. Andreas merasa bersalah dan mencoba berulang kali meminta maaf tetapi aku tak mau memaafkannya.
Setiap hari ia mendekatiku untuk mengucapkan kata maaf dan penyesalan sembari memberikan sebungkus cokelat. Namun itu semua tidak membuat pendirianku goyah, aku masih tak ingin berbicara dan memberikan maaf padanya. Selama 10 hari ia selalu menemuiku hanya untuk mengucapkan maaf, kata penyesalan, dan cokelat sembari melontarkan candaan agar aku tersenyum.
Setelah kejadian itu sikapnya mulai berubah, ia menjadi anak yang tak lagi songong, dan cerewet. Ia menjadi sosok yang humoris dengan teman-teman, baik, dan sopan. Aku mulai menyukai semua perubahan dan kebaikannya walau aku masih selalu diam seribu bahasa ketika ia mengajakku ngobrol.
Tiba saat pembagian raport. Dia memberikan sepucuk surat untukku yang isinya sebuah permintaan maaf dan sebuah kabar. Ia akan pindah sekolah karena harus ikut bersama orangtuanya dan melanjutkan sekolah di kota Bogor .
Saat itu, aku mulai sadar, jika aku takkan lagi bisa bertemu dengannya. Aku mencoba menghampirinya untuk memaafkannya. Saat itu ia memberikan bingkisan kecil yang manis sebagai kenang-kenangan yang hingga detik ini masih aku simpan rapi di lemari pakaianku.
Komunikasi kami berlanjut melalui HP hingga aku SMA. Walaupun tak pernah berjumpa tapi kami selalu berkomunikasi dengan baik dan memutuskan untuk menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih. LDR gitu deh kalau kata anak zaman now. Ha….ha…ha……
Hubungan itu terus kami jalani sampai aku semester 7 di perguruan tinggi. Namun karena kesibukan skripsi dan hal lainnya, komunikasi di antara kami tak lagi baik, bahkan nomor HP-nya pun tak bisa aku hubungi lagi.
Satu tahun berlalu, komunikasi kami benar-benar terputus. Suatu ketika tak sengaja aku berjumpa dengannya, di pusat perbelanjaan di kota Bengkulu. Namun, saat itu ia telah bersama keluarga kecilnya dan kami hanya saling menatap tanpa kata. Ingin rasanya aku menepuk punggungnya lalu menyapa.
‘’Hai apa kabar? Senang deh bisa ketemu kamu. Kamu ke mana saja?”. Tapi bila itu terjadi, aku pasti tak berdaya. Lagi-lagi aku diam seribu bahasa. Aku wedi karo bojone rek. Hihi. Mencintai memang tak harus memiliki kan?




Leave a Reply