
Sebelum menulis cerita ini, aku sudah senyum-senyum sendiri. Sedikit malu untuk menceritakan masa- masa putih abu (SMA). Terlalu banyak kenangan yang lucu dan susah untuk dilupakan, bahkan mungkin tidak akan pernah terlupakan.
Di saat ketika malas belajar mata pelajaran kimia maka satu kelas kompak bolos. Ketika Pak Fajri datang ke kelas, muridnya sudah tidak ada satu pun. Kalau ada teman yang rajin atau pintar tidak mau ikut bolos maka akan dimusuhi teman satu kelas. Hahahaa itu benar-benar memalukan .
Singkat cerita, sekitar 26 tahun yang lalu aku adalah salah satu siswa di sekolah pertanian Bengkulu Selatan, tepatnya di daerah Selali Pino Raya Bengkulu Selatan provinsi Bengkulu. Sebenarnya keinginanku saat itu masuk ke SMA N 2 Manna Bengkulu Selatan. Berhubung di desa Selali berdiri Sekolah Menengah Pertanian (SMTP) dan sekolah ini berdiri mngah di sana dan dijanjikan kalau bisa sekolah di sana maka setelah lulus akan diangkat PNS. Kenyataannya, setelah kami tamat semuanya hanya janji palsu.
Maka sudah dibayangkan berapa ribu orang yang melamar di sana baik dari daerah kami atau dari luar provinsi. Kebetulan tenaga pengajarnya memang didatangkan dari luar provinsi Bengkulu. Alhamdulillah aku salah satu siswa yang bisa masuk di SMTP tersebut. Saking banyaknya yang diterima, kelas 1 dibagi menjadi 7 kelas dengan beberapa bidang yaitu peternakan, hortikultura, pertanian tanaman tahunan, dan perikanan.
Hari-hari kami lalui dengan banyak cerita. Kebetulan semua siswa kebanyakan tinggal di asrama yang sudah disiapkan di sekolah tersebut. Kegiatan kami di sekolah pun padat. Pagi kegiatan belajar mengajar sampai siang kemudian sore harinya berkebun atau membuat kebun. Masing-masing kelas yang lahannya sudah dibagi per orang. Nah, di sana terjadi sistem pemanfaatan. Kebetulan banyak anak laki-laki sehingga kami yang perempuan akan berkata sehalus mungkin biar ditolong para cowok.
Begitu juga tentang kisah cinta monyet yang terjadi di sekolah. Menunggu surat cinta yang amplopnya harum dan berwarna warni. Pulang nunggu gebetan di gerbang sekolah, tentunya bersama dengan geng yang kompak. Zaman dulu pacarannya pasti rame-rame. Maksudnya, kalau janjian atau ketemuan pasti ada teman kita yang ikut jadi obat nyamuk hehehe.
Pinjam bukunya lalu di tulis pantun “Empat kali empat 16, sempat tidak sempat harus dibalas”. Kalau kirim surat memakai alamat sekolah alhasil dibaca guru-guru lalu ketika upacara bendera dihukum di bawah tiang bendera. Namun, yang jelas kalau pacaran zaman dahulu saat LDR (Long Distance Relationship) maka akan mengalami rindu berat, kata Dilan. Bukan seperti zaman sekarang kalau rindu langsung video call.
Oh ya kebetulan di kelasku ini ada cowok yang nyaris sempurna. Menurutku sudah di dia semua. Ganteng di dia. Pintar di dia. Rapi di dia. Pokoknya paket komplit si cogan ini. Aku cuma kagum saja tidak berani lebih karena yang aku ketahui dia punya pacar yang cantik. Pas lah dengan dia dan cowok ini jarang bercanda dan tersenyum sehingga para cewek-cewek semakin kesengsem. Paling kalau di kelas ada yang mengejek atau menggangguku dia cuma bilang janganlah mengganggu perempuan.
Tahun 1998 aku dan teman-teman berpisah dan melepas baju SMA. Kami pun berpisah dan melanjutkan study masing-masing. Ada yang kuliah di luar pulau Jawa. Ada yang di kuliah di Bengkulu saja. Beberapa tahun kemudian, aku ngobrol ringan dengan bapak. Bapakku bercerita.
“Oh ya lupa, dulu waktu Ayuk tamat SMA beberapa tahun yang lalu ada kawan Ayuk yang datang. Kalau gak salah namanya Albiyanto, menghadap sama bapak mengajak Ayuk nikah.”
“Ya Pak kenapa bapak baru ngomong sekarang?”
“Bapak lupa pula dan gak mungkin bapak sampaikan sama Ayuk karena saat itu baru tamat SMA. Otomatis bagaimana kalian bisa hidup,” jawab bapak.
Dalam hati ini, cowok yang waktu SMA, yang banyak dikagumi teman-temanku termasuk diriku, kok bisa mengajak aku menikah ? Apakah dia hilang ingatan atau apa? Secara, aku loh bukan perempuan cantik yang ketika bertemu atau melihat mantannya saja pasti minder awak nie.
Setelah aku pikir-pikir kalau aku menikah sama dia pasti makan hati dan berulam jantung karena bakal takut kehilangan setiap hari. Itulah rencana Allah, memang jodoh itu adalah yang terbaik dikasih Allah. Sekarang aku mendapatkan raja di hatiku yang luar biasa baik. Pokoknya yang terbaik dari yang baik.




Leave a Reply