Ujung yang Tak Terduga

Dok.Wikihow

Teringat masa kecil. kami pernah bermain peran layaknya sepasang  pengantin. Dia merangkai bunga di perkebunan dekat rumahnya. Dia memegang rambutku lalu menyematkan bunga di telingaku. Membuat bando dari bunga, mahkota untuk kepalaku.

Kami menyusun kursi dan merangkai bunga seperti pesta pernikahan di taman. Waktu itu kami masih Sekolah Dasar di SDN 17 di kota X.  Kami sama- sama  kelas 5. Sebenarnya kami sudah saling kenal dan dekat dari kecil. Kami tumbuh bersama-sama.

Dia adalah anak yang selalu duduk di barisan depan dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Namanya David, sempurna dalam segala hal. Tidak hanya tampan, tapi juga cerdas, jenius di kelas, berbakat dalam musik, dan atletis di lapangan. Dia adalah sosok yang dikagumi banyak orang. Secara diam-diam aku juga termasuk menyukainya.

Seiring waktu, perasaan itu tumbuh karena kami selalu satu sekolah dari SD sampai SMA. Aku dan David semakin dekat. Kami berbagi tawa, berbincang tentang impian, dan saling mendukung dalam setiap hal. Dia mengajariku bermain gitar dan aku selalu menjadi orang pertama yang mendengar instrumen melodi gitar yang dia pelajari.

Dia selalu memainkan melodi lagu Falling in love J-Rocks. Bahkan melodi lagu dari band The Moffatts seperti Miss you like crazy dan I’ll be there for you. Westlife dengan lagu My Love (Coast to Coast), dan Backstreet Boy. Dia sangat handal memainkan melodinya. Dia juga jago bermain piano. 

Di lapangan basket, aku duduk di bangku penonton, menyemangatinya setiap kali dia mencetak poin. Begitu juga dengan olahraga renang.  Dia jago renang bahkan dia mewakili sekolah kami untuk lomba renang. Dia bisa gaya bebas, gaya dada, dan gaya kupu-kupu. Rasanya dunia ini tidak ada spek seperti dia lagi yang aku temukan hehehe.

Di dalam kelas, ketika aku tidak mengerti pelajaran Fisika, Kimia dan Matematika, dia selalu mengajariku tentang pelajaran itu hingga aku paham pelajaran yang tadinya aku tidak kuasai. 

Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Setelah lulus SMA dia diterima di FTTM Institut Teknologi Bandung jurusan teknik pertambangan. Kami berjanji akan tetap berkomunikasi. Jarak tidak akan mengubah apa pun.

Awalnya semua terasa baik-baik saja. Pesan singkat setiap pagi, teleponan di malam hari, dan surat-surat panjang yang ia tulis penuh motivasi dan cinta. Namun, perlahan jarak mulai menunjukkan kekuatannya. Kesibukan, perbedaan waktu, dan kehidupan yang semakin berbeda mulai menciptakan dinding di antara kami.

Hingga suatu hari, pesan darinya datang dengan nada yang berbeda. “Aku harus memberitahumu sesuatu,” katanya. Aku membaca pesan itu dengan jantung berdebar. Lalu dia mengatakan bahwa hidupnya di sana telah mengubah banyak hal, termasuk keyakinannya. Dia telah menemukan jalan baru, dan itu berarti kami tak bisa lagi bersama.

Aku terdiam. Perasaan yang dulu begitu indah kini terasa seperti potongan kaca yang menyayat hati. Bukan karena dia berubah, tapi karena aku tahu, ada hal-hal yang tidak bisa kami lawan yaitu waktu, jarak, dan takdir. Hari itu, aku menangis bukan karena kehilangan cinta pertamaku, tapi karena menyadari bahwa tidak semua cinta harus memiliki akhir yang bahagia. Namun, aku bersyukur pernah mencintainya, pernah merasakan betapa indahnya mencintai seseorang dengan tulus.

David sekarang telah menjadi pribadi yang baru. Dia sekarang bernama M. Daud. Dia tetap menjadi bagian dari masa kecilku yang paling indah. Kisah yang akan selalu kami kenang meski kami berjalan di jalan yang berbeda.