Kisah ini aku alami ketika duduk di bangku kelas 1 SMP. Waktu itu di sekolah SMP kami banyak kegiatan ekstrakurikuler. Ada ekstra bola kaki, basket, sampai bulu tangkis. Selain itu ada ekstra alat musik seruling dan pianika.
Aku menyukai ekstra seruling yang dibimbing Pak Adi. Aku menyukai cara mengajar Pak Adi. Ada sekitar 60 orang yang dibimbing Pak Adi belajar bermain seruling. Saking banyaknya murid, Pak Adi mengambil beberapa orang laki-laki yang sudah mahir bermain seruling. Ada empat orang yang membantu Pak Adi yaitu Edi, Toni, Ridwan, dan Reza. Anggaplah keempat laki-lai itu idola di sekolah.
Di antara keempat laki-laki ini, Toni yang paling tampan. Ketampanannya membuat sahabatku, yaitu Dea dan Kiki klepek-klepek jika bertemu dengan Toni. Mereka selalu caper ketika bertemu Toni. Kadang mereka bercanda, tertawa sepuasnya di jam istirahat. Sedangkan Edi, Ridwan,dan Reza termasuk tipe laki-laki kaku dan serius.
Saat jam istirahat Dea dan Kiki bersama Toni sedang bercanda. Tanpa sengaja aku berpapasan melewati mereka. Lalu Dea menghadang kakinya sehingga badanku hampir jatuh, untung ditangkap Toni. Sejenak aku berpandangan mata dengan Toni. Dengan senyumnya yang menarik Toni terus memegang pinggangku. Aku berusaha menarik badanku, tapi tangan Toni menahanku.
“Cie, cie, cie, suit..suit,suit, kaya pemain film India nih,” teriak teman-temanku menertawakan kami. Wajahku memerah bagaikan udang rebus. Lalu wajah Toni mendekati wajahku sambil berbisik.
“Hati-hati ya,” bisiknya.
“Apa-apaan sih,” kataku sambil menarik tubuhku sekuat-kuatnya.
Aku masuk kelas sambil menutup wajah dengan saputanganku. Tiba-tiba Dea datang dengan ciri khas tawanya. “Hahahahaha, prank aku berhasil,” kata Dea.
Aku langsung marah kepada Dea. Aku bilang pindah kelas saja dan tidak mau bersahabat lagi dengan Dea. Mendengar ancamanku, Dea langsung minta maaf sambil memeluk tubuhku. Dia berjanji tak akan melakukan lagi. Dea takut kehilanganku sebagai sahabatnya. Akhirnya Dea aku maafkan.
Setelah kejadian itu, Toni semakin sering mendekatiku. Jika ada pembentukan kelompok belajar atau kelompok ekstra musik, Toni selalu membujuk guru supaya aku satu kelompok dengannya. Begitu pula jika ada kegiatan pertandingan bola kaki. Toni selalu minta Dea supaya mengajakku menonton pertandingannya. Lama kelamaan Toni dan aku semakin akrab. Namun, aku selalu menjaga jarak tidak mau terlihat berdua. Aku selalu mengajak Dea dan juga Kiki.
Suatu hari saat pertandingan bola kaki berlangsung, Toni bermain kurang fokus sehingga di babak pertama timnya kalah. Saat istirahat, guru olahraga bertanya pada Toni penyebab tidak fokusnya dia bermain bola. Toni membisu. Dea menyeletuk, menjelaskan alasannya kepada guru olahraga. Sebabnya, karena aku tidak ikut menonton pertandingan itu.
Akhirnya guru olahraga menyuruh Dea menjemputku. Dengan cepat Dea menjemputku menggunakan motornya. Setelah 5 menit, aku tiba di area lapangan bola. Toni terus memandangku. Aku tersenyum memandangkan dan memberikan kedua jempolku lau berteriak semangat dengan melambaikan tanganku. Toni tersenyum dan menganggukkan kepala.
Pertandingan babak kedua dimulai. Toni berlari dengan sangat cepat. Menggiring bola ke arah gawang. Gol, gol, gol! Semua bersorak, tim Toni berpelukan. Skor menjadi sama. Toni memandangku lagi. Aku pun memberikan semangatnya. Dengan gerakan cepat Toni pun memasukkan bola ke arah gawang yang kedua kalinya sehingga skor menjadi 2-1.
Peluit panjang dari wasit yang menandakan pertandingan berakhir, dimenangkan tim Toni. Kami pun bersorak-sorak dengan kemenangan ini. Guru olahraga kami berteriak senang sekali. Kemudian guru olahraga bersama Toni memanggilku kemudian mengatakan aku harus jadi pacar Toni.
“Ya Pak, pacar ecek-ecek,” kataku sambil tertawa.
“Apa itu pacar ecek-ecek?”.
Aku, Dea, Kiki spontan menjawab. “Pacar bohongan hahahahaha,”. Kami tertawa bahagia.




Leave a Reply