Gas Subsidi, Gamis, dan Kombinasi Langka: Kisah Seru Hidup di Perkebunan

Dok.Wikihow

Aku tinggal di sebuah perkebunan kelapa sawit yang ramai dan penuh warna. PT. Agricinal namanya, sebuah perusahaan yang sudah berdiri lebih dari 40 tahun. Orang-orang yang menjadi karyawan datang dari berbagai suku, budaya, dan agama. Bisa dibilang, ini semacam Indonesia mini dalam versi yang lebih asyik.

Di sini, semua ada. Sekolah dari PAUD sampai SMA? Ada. Balai pengobatan buat yang tiba-tiba sakit atau pura-pura sakit biar libur kerja? Ada. Toko Mathagia, semacam minimarket kebanggaan warga, yang kalau hari gajian penuh seperti konser gratis? Jelas ada!

Sore itu aku mengantar istri beli sabun cuci piring ke Mathagia. Vertigonya kumat. Tidak enak kalau menolak, takutnya makin parah. Bisa-bisa bontot besok pagi tidak ada. Aku berkendara dengan santai sambil mengamati sekitar. Maklum, bulan puasa. Suasana makin meriah, orang-orang makin aktif. Ada yang mencari takjil ke kantin Fatma, ada yang baru pulang kerja, menggiring sapi ke kandang, pokoknya macam-macam.

Kebetulan Gas subsidi pemerintah baru datang. Warga berbondong-bondong mengambil jatah gas dengan cara yang unik. Ada yang lari seperti kejar diskon, ada yang bawa obrok seperti melangsir TBS, ada juga yang sudah siap dengan strategi bertahan di barisan. Pemerintah benar-benar melatih rakyatnya jadi atlet ketahanan—bukan lari maraton, tapi lari berebut kebutuhan.

Aku berpapasan dengan ibu-ibu bermotor jembrong yang bannya seperti sudah lelah menghadapi kehidupan. Dia membawa dua tabung gas sekaligus. Seimbang? Tidak. Tapi semangatnya patut diapresiasi. Lalu ada anak muda bergaya punk, lengkap dengan jaket penuh pin dan celana sobek, dekil dan kuncup, seperti sudah lima hari dipakai terus. Dia jalan kaki, tidak seperti yang lain berkendara. Mungkin prinsipnya kendaraan hanya untuk jiwa-jiwa kapitalis.

Seorang bapak membonceng bayinya yang cuma pakai popok sedangkan si bapak sendiri hanya mengenakan singlet dan celana pendek yang dijahit dari spanduk partai. Pendek sekali, sampai kelihatan bulu pahanya yang lebat. Si bayi tampak bingung, mungkin bertanya-tanya: ini kita ke warung atau mau ikut drag race?

Selain pemburu gas, ada juga pegawai pabrik dan kantor yang baru pulang kerja. Di antara mereka, seorang gadis cantik dengan gamis panjang melaju dengan motor matic-nya, menyalip kendaraan lain seperti pembalap MotoGP diatas batu koral sehingga suara motornya gedebak gedebuk

Aku pulang, mandi sebentar, kemudian berpakaian rapi. Baru ingat, sore itu ada acara buka puasa bersama di sekolah dan doa bersama untuk ujian anak-anak kelas akhir. Sampai di aula serba guna yang kami sebut Guest House, suasana sudah ramai. Anak-anak dan guru-guru berkumpul. Yang menarik, di depan, pendeta dan ustaz duduk bersebelahan, siap menyampaikan ceramah. Sebuah kombinasi langka yang kalau difoto bisa jadi poster persatuan umat.

Acara belum mulai. Masih menunggu yang ditunggu—entah siapa. Belakang aku tahu yang ditunggu adalah suara sirine dari Masjid. Sementara itu, anak-anak sibuk selfie dengan jari dua di sudut aula, seperti sudah dikontrak oleh media sosial untuk promosi simbol perdamaian.

Tidak mau ketinggalan guru-guru cantik juga berfoto dengan gaya kepala miring sedikit ke kiri, dengan senyum yang sudah terlatih. Pak Kepala Sekolah memilih duduk berjejer dengan bu wakilnya, asyik bercerita tentang hal-hal yang entah serius entah tidak, mungkin mereka membahas kapan Tunjangan Hari Raya (THR) cair.

Begitulah kehidupan kami di perkebunan ini. Jauh dari kota, tapi tetap terasa modern. Desa banget, tapi tetap ada nuansa urban. Kadang lucu, kadang unik, tapi selalu nyaman untuk ditinggali. Di sini, persatuan umat bukan hanya soal toleransi, tapi juga berbagi info kapan gas datang, dan yang paling sakral—berbagi gorengan terakhir di piring takjil tanpa ada yang merasa tersakiti.