Asal-usul Tanjakan Marpaung

Dok.Wikihow

Syahdan, seorang pria bersiul di atas motornya. Ia berkendara ke tempat kerja di Ipuh dengan santai. Wajahnya yang disapu cahaya hangat matahari pagi sedikit memerah. Cahaya itu ia balas dengan siul meliuk laiknya kelokan tajam yang sudah menanti.

Dia adalah seorang kuli bangunan. Pekerjaannya berat tetapi sangat ia nikmati. Meski tubuhnya sering dibakar matahari tak sekalipun keluhan terlontar dari mulutnya.

Siang itu juga begitu. Setelah bermandi keringat ia makan nasi pandang dengan gembira. Setelah kenyang beranjak pulang tetapi mampir dahulu ke warung tuak karena air putih ternyata belum bisa mengatasi dahaganya.

Ia menyeruput tuak dengan nikmatnya sambil ngobrol dengan orang-orang yang mulai sedikit mabuk. Ia juga menyobek hidangan daging babi pemilik warung. Sore yang sempurna, katanya, sebab tak ada kombinasi yang lebih baik dari babi dan tuak untuk memulihkan tenaga.

Ia melanjutkan perjalanan pulang sebelum matahari tenggelam. Perjalanan sama nikmatnya seperti pagi. Angin sepoi-sepoi menggantikan cahaya matahari lembut di wajahnya. Ia melewati kelokan demi kelokan dengan kecepatan tinggi, lalu sampailah ke tanjakan yang berbahaya. Motornya oleng, ia roboh, kepalanya menghantam aspal dengan keras.

Matilah ia saat itu juga. Jasadnya tergolek di tanjakan itu semalaman. Pagi harinya barulah diketemukan pengguna jalan. Mayat dieksekusi polisi kemudian ia dimakamkan dan di saat bersamaan tanjakan itu dijuluki Tanjakan Marpaung.