Obrolan Aneh saat Mencabut Uban

Dok. Nocookie.net

Di suatu kesempatan aku dan mamak duduk di lincak rumah sambil mencari uban. Tidak tahu dapat angin dari mana, mamak tiba-tiba buka topik obrolan tentang perubahan dunia. Aku mendengarkan sambil lalu karena uban di kepala mamak jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Hidup zaman sekarang, kata mamak membuka cerita, lebih mudah dibanding zamannya dulu. Balita saja sudah bisa pakai teknologi. Anak usia dua tahun sudah jago main HP. Di zamannya mamak, anak kecil yang punya mainan itu bisa dibilang sudah sangat beruntung.

Puluhan uban sudah aku cabut ketika mamak melanjutkan ceritanya. Tentang pendidikan rumah tangga dan hubungan orangtua-anak yang sudah berubah. Orangtua zaman dahulu itu keras. Sering main fisik. Mamak dipukul sapu ketika nakal. Namun, kerasnya pendidikan orangtua adalah bentuk perhatian.

“Lihat sekarang. Orangtua sibuk cari cuan saja, main HP saja, tidak tahu sama anak. Anak berak saja tak tahu tanda-tandanya,” kata mamak ketus.

Aku menganggukkan kepala. Bukan setuju tetapi karena telah menemukan beberapa helai uban yang menyelinap di antara rambutnya yang hitam. Lalu cerita sudah sampai di masa remaja mamak. Dia punya geng yang isinya perempuan semua. Beda dengan generasi sekarang yang suka nongkrong, mamak dan gengnya suka bermain di sungai. Bahkan teman-teman mamak itu sering membantu mencuci baju, piring, dan pekerjaan rumah tangga mamak di sungai.

Ia mengakui generasi sekarang jauh lebih pintar, cerdas, dan kreatif dibandingkan remaja pada zamannya. Dunia menjadi lebih kecil dengan adanya teknologi. Padahal, kata mamak, dunia itu sangat luas dan remaja harusnya melihat dunia dengan mata kepala mereka sendiri. Kekurangan lain yang dilihat mamak yakni kurangnya adab dan adat.

Ketika dia mengakhiri cerita, aku juga sudah menyelesaikan tugasku. Uban mamak saat itu sudah aku cabut semua.