Kamikaze! Taktik Perang Jepang Masa Silam

Para pilot kamikaze (dokumen Keystone)

Masyarakat Jepang adalah orang-orang yang setia sekaligus tekun. Mereka setia terhadap pekerjaan dan profesinya. Setia terhadap kekaisaran, terutama saat Restorasi Meiji mengubah tatanan negara matahari terbit itu.

Tentara Jepang selama Perang Dunia (PD) II juga begitu. Mereka dikenal setia dengan kekaisaran. Tidak ragu-ragu memberikan nyawa. Disuruh mati ya mati. Perintah adalah mutlak. Salah satu pasukan yang dikenal punya jiwa setia adalah kamikaze.

Jepang berhadapan dengan Amerika di PD II. Cerita—dari film dan buku—pertempuran mereka cukup seru. Pemboman pelabuhan Pearl Harbour 1941 adalah satu dari sekian pertempuran yang menunjukan kesetiaan mereka.

Waktu itu Amerika belum terllibat langsung dalam perang. Para tentara Amerika sedang sibuk di Pearl Harbour waktu itu. Mereka sedang membersihkan kapal lalu mengisi amunisi. Dengan kata lain mereka belum siap ketika pesawat-pesawat Jepang melintas Samudera Pasific lalu mengebom kapal-kapal mereka.

Di momen-momen kritis itu, seorang komandan Angkatan Udara (AU) Jepang bilang begini: “Kalau peluru kalian habis, maka kalian yang harus menjadi peluru”.  Pasukan tempur Jepang menunjukan kesetiaan dan nasionalismenya. Pasukan kamikaze mengarahkan pesawat mereka ke kapal-kapal di dermaga, menabrakan diri sehingga  sebagian besar pilot mati.

Dari keterangan Hisao, tentara Jepang yang selamat, diperkirakan lebih dari 3.800 pilot kamikaze tewas. Di pihak Sekutu, sekitar 7.000 tentara menjadi korban kamikaze. Peristiwa itulah yang membuat pasukan kamikaze terkenal ke seluruh dunia. Uniknya, saat menabrakan diri semua pilot dan Angkatan Laut (AL) Jepang yang bersiaga dekat Pearl Harbour berteriak, “Banzai! Banzai!” seruan menyambut kematian.

Saat ini kamikaze berubah maknanya. Bukan lagi ideologi atau tradisi melainkan dimaknai sebagai taktik peperangan saja. Empat tahun setelah pertempuran di Pearl Harbour, Amerika membalas dengan cara yang jauh lebih kejam: bom atom.