Please Jangan Bunuh Diri! Simak Cerita Ini

Dok.Wikihow

Aku termasuk orang yang belum cukup baik mengenali stres. Ada banyak situasi yang membingungkan. Ini stres atau bukan sih? Apalagi setelah menikah dan punya anak, semua beban hidup serupa mie instan: mudah dibuat, gampang dilumat. Masalah memang datang silih berganti tetapi entah kenapa semua bisa dikelola lebih mudah ketika dijalani bersama istri.

Aku sempat tanya teman soal stres. Seperti apa sih stres itu? Apa gejala dan dampaknya. Dari banyak jawaban yang datang, aku analogikan stres itu seperti naik bus kota tapi nggak tahu harus turun di mana. Mau loncat takut, mau lanjut bingung. Ujung-ujungnya cuma bisa pasrah sambil pegang tiang.

Dari situ aku simpulkan bahwa stres adalah situasi ketika kita merasa sulit mencari jalan keluar dari kepungan masalah yang mencucuk tulang. Dalam konteks yang lebih singkat, padat, dan ekstrem stres itu situasi di mana kita merasa hidup sudah tamat. Game over—padahal baru level empat.

Aku pernah mengalami stres tingkat dewa saat masih semester empat di universitas. Seperti cerita sebelumnya, aku kuliah sambil bekerja. Pekerjaanya menjaga Wartel—Warung Telepon, bukan warung telur. Bagi yang seumuran pasti tahu tempat ini menjadi tempat nongkrong para pemuda pada masanya. Multifungsi: menelepon, nongkrong, dan curhat soal cinta yang tak berbalas.

Waktu itu aku tinggal di rumah keluarga dari pihak ayah. Namanya juga menumpang, maka otomatis harus ikut semua kegiatan rumah tangga. Dari mencangkul, jualan pakaian bekas, VCD bajakan (yang kadang gambarnya miring), jual kerupuk sampai tugas mulia seperti mencuci dan melipat kain. Lima tahun aku jalani itu semua. Berat? Pasti. Namun, harus aku hadapi dan pada akhirnya jadi bekal hidup juga. Aku jadi manusia serba bisa.

Namun, hidup bukan hanya tentang bertahan. Aku juga ingin punya waktu bersantai seperti teman-teman yang lain. Saya ingin nongkrong, jalan-jalan, dan rebahan tanpa rasa bersalah. Namun, apa daya, hidupku waktu itu seperti program sinetron Indosiar: padat, penuh konflik, tapi tetap harus tayang setiap hari.

Waktu itu omset Wartel sampai Rp1 juta per hari. Biasanya setor ke pemilik itu dua minggu satu kali. Karena pemilik tidak setiap hari ke Wartel, jadi aku bagian pegang uang sebelum disetor.

Aku di masa muda adalah sosok teledor dan selebor. Uangnya hilang. Nominalnya cukup banyak sehingga tidak mungkin bisa aku bayar. Saya mengambil jalan pintas, berbohong pada pemilik dengan berkata uang sudah disetor ke bank. Namun, mereka mencium kebohongan itu lalu akan melaporkan saya pada orangtua dan keluarga.

Ancaman itu membuatku lemas. Semua tulang serasa remuk, seolah tubuh ditabrak bulan. Pikiran mulai berkecambah, keteledoran itu akan membuat malu keluargaku. Aku sudah menancapkan tebing ke dada mereka. Lalu tiba-tiba muncul jalan pintas lainnya, aku memutuskan bunuh diri saja.

Aku menunggu rumah sepi keesokan paginya. Setelah tidak ada orang di rumah, aku mengunci pintu kemudian menyiapkan racun rumput satu gelas. Aku menulis surat untuk orangtua, keluarga, dan mantan pacarku. Sebelum meminum racun itu aku berdoa terlebih dahulu.

Tuhan selalu bekerja dengan cara misterius. Apa yang kita anggap benar dan baik belum tentu baik bagi-Nya. Apa yang menurut kita salah juga belum tentu salah bagi-Nya. Sebab, Tuhan maha mengetahui sementara manusia hanya debu di layar-layar kaca. Adegan selanjutnya adalah bukti bahwa wacana populer itu tidak sekadar kata-kata.

Di tengah doa, aku mendengar bisikan untuk menghadapi persoalan. Setiap penyakit ada obatnya. Tiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Aku mengambil keputusan penting. Racun aku buang lalu bersiap menghadapi semuanya di bawah rasa takut dan malu. Semua yang aku takutkan memang terjadi—tapi tidak seburuk yang dibayangkan. Semua terlewati.

Aku belajar satu hal penting dari kejadian itu. Stres bukan musuh melainkan alarm. Ia mengingatkan kita untuk berhenti sejenak, mengevaluasi, dan mencari arah. Masalah tidak bisa dihindari, tapi bisa dihadapi. Kadang bukan masalahnya yang terlalu besar, tapi ego kita yang terlalu tinggi.

Jika hidup terasa berat, cobalah untuk berdoa. Karena doa adalah terapi terbaik: gratis, praktis, dan tanpa efek samping. Lalu bersyukurlah, karena selalu ada hal kecil yang bisa membuat kita tetap bertahan—entah itu senyuman anak, obrolan ringan dengan pasangan, atau mie rebus saat nonton bola.

Dan satu hal lagi yang perlu diingat: semakin besar tanggung jawab, semakin besar pula peluang untuk stres. Jadi tetap tenang, jangan lupa senyum, dan kalau bisa tertawakan kehidupan ini. Sebab hidup ini terlalu hambar tanpa humor.