
Saya anak yang kurang hati-hati. Teledor kata orangtua. Soalnya saya sering kehilangan uang saku. Ceritanya begini teman-teman.
Besar uang saku saya tergantung kantung orangtua. Kalau sedang punya uang, saya dikasih Rp4 ribu sampai Rp5 ribu per hari. Kalau sedang pas-pasan Rp2 ribu dan ketika tidak punya uang ya saya tidak dikasih sangu.
Sama seperti anak-anak lainnya, uang saku saya habis untuk jajan dan membeli pena. Pernah juga saya tabung lalu setengahnya untuk beli jajan adik. Pegang uang dalam jumlah besar itu rasanya enak sekali. Ingin jajan terus tetapi dari sanalah saya sering kehilangan uang.
Uang saku dari mamak saya pegang kuat-kuat di tangan saat berangkat ke SD Tenera menggunakan truk sekolah. Namun saya sering ketiduran. Ketika turun, uang dalam genggaman lari entah ke mana. Saya terpaksa menelan air liur saja sampai pulang sekolah karena tidak bisa jajan.
Sekarang saya selalu awas di dalam truk sekolah. Uang saku saya masukan kantung atau tas biar aman. Lalu saya membuka mata lebar-lebar agar tidak ketiduran lagi. Pokoknya awas dan melotot.
Begitulah ceritanya teman-teman.




Leave a Reply