Aturan Tak Tertulis di Kampung Kami

Dok.Wikihow

Ada aturan tak tertulis di kampung kami. Pintu dan jendela harus ditutup rapat dan tidak boleh ada anak-anak yang berkeliaran di luar rumah ketika maghrib tiba. Aturan itu sudah ada sejak dulu karena kisah Wewe Gombel yang turun-temurun.

Kata para sesepuh kampung, Wewe Gombel itu setan yang suka menculik anak-anak kecil ketika senja tiba. Mengerikan bukan? Namun, ada pula cerita lain tentang Wewe Gombel yang tidak populer di kampung kami.

Ada yang bilang Wewe Gombel memang menculik tetapi bukan untuk melukai melainkan melindungi sekaligus merawat anak-anak kecil yang ditelantarkan orangtua. Namun, agaknya warga kampung kami tidak percaya pada teori barusan.

Seorang temanku, Juna, sedang sial hari itu. Usianya 12 tahun. Dia tidak begitu percaya dengan kisah turunan itu. Saat itu tepat maghrib ketika ia pulang mengaji. Juna menyusuri jalan setapak yang dihimpit perkebunan aren. Biasanya Juna sudah sampai di rumah sebelum maghrib tetapi hari itu dia mampir dahulu ke rumah teman.

Orangtuanya cemas. Mendekati Isya, cemas itu berubah menjadi kepanikan sebab Juna belum juga sampai di rumah. Orangtua Juna keliling kampung, mencari di rumah-rumah tetangga lalu mampir ke kediaman teman anaknya. Namun Juna tak juga ditemukan.

Tangis pecah ketika seorang warga yang ikut mencari yakin Juna diculik Wewe Gombel. Dia menyarankan agar orangtua Juna ke rumah Pak Bambang di dekat perkebunan. Pak Bambang ini bisa dibilang ‘orang pintar’. Seseorang dengan kekuatan mata batin, mampu melihat makhluk yang tidak bisa ditangkap indera orang-orang biasa.

Diterangi cahaya senter dan bunyi panci yang dipukul, warga menuju ke area perkebunan. Mereka memanggil nama Juna sepanjang jalan bersama Pak Bambang yang memimpin jalan sambil membaca mantera. Tiba-tiba Pak Bambang berhenti di sebuah pohon besar diikuti teriakan seseorang dari dalam barisan yang menunjuk ke atas pohon.

Juna ada di sana. Wajahnya pucat seperti orang mati dan tubuhnya penuh lumpur. Pak Bambang menurunkan Juna lalu sesegera mungkin membawanya ke rumah. Setelah diruqiyah Juna cerita panjang lebar tentang peristiwa yang ia alami di kebun aren. Dia memang diculik Wewe Gombel.

Setelah peristiwa itu, aturan itu dibuat tertulis. Setiap warga harus waspada dan tidak boleh membiarkan anak-anak mereka bermain di luar rumah ketika senja. Percaya tidak percaya inilah yang terjadi di kampung kami.