November 2014. Saya bersama Pak Anggiat, Bu Melfrida, Bu Neli, Bu Solikhah, Pak Edi Susanto, dan Pak Dedi Sukandi beserta siswa dan siswi SMA Tenera melakukan pelayanan komunitas di Afdeling 7 PT. Agricinal. Tempatnya jauh dari sekolah. Namun justru jarak mendekatkan kami pada banyak hal. Pada masyarakat, alam, dan nilai-nilai hidup yang sederhana.
Kami naik truk sekolah. Semangat dan canda tawa menjadikan setiap guncangan sebagai bagian petualangan. Di sana kami disambut keramahan para penduduk. Kami tidak tinggal di penginapan, melainkan di rumah-rumah warga. Sederhana tetapi hangat dan tulus.
Para siswa dan siswi juga bermalam di rumah penduduk. Mereka ikut dalam aktivitas harian tuan rumah seperti menimba air, memasak, membersihkan halaman, hingga menggiling bumbu di dapur. Mereka belajar langsung dari kehidupan. Semua yang mereka lakukan adalah tentang kerja keras, berbagi, dan tentang rasa hormat.
Kami mandi di sungai. Airnya menyegarkan. Suara arus dan tawa murid-murid serupa harmoni. Sulit dilupakan. Memasak pun bersama, menggunakan tungku kayu bakar. Menu makan malam kami sederhana saja. Lauk dari tepung terigu yang digoreng lalu disambal. Luar biasa nikmatnya apalagi saat disantap bersama.
Hari paling berkesan adalah malam pentas seni di tenda terpal biru. Dengan penerangan sederhana, satu per satu menunjukkan bakat mereka. Ada yang menyanyi, membaca puisi, menari, dan menampilkan berbagai pertunjukan lain yang kreatif dan menghibur.
Malam itu semakin istimewa saat Pak manajer PT saat itu dan para penduduk duduk bersama. Bersila di sekitar tenda, menyaksikan setiap penampilan dengan penuh semangat, ditemani camilan ubi dan jagung rebus. Tawa, sorak sorai, dan tepuk tangan mengiringi setiap penampilan. Bagi warga, itu menjadi malam hiburan yang sangat dinantikan. Sebuah malam yang ramai, hidup.
Tak berhenti sampai di situ. Kami melanjutkan malam dengan meditasi. Kami duduk bersama, menyesap keheningan sekaligus merenungi siapa diri kami. Mengingat kembali perjuangan orangtua dan betapa hidup adalah berkah tanpa tanding.
Di Afdeling VII listrik hanya menyala hingga jam sebelas malam. Setelah itu, kampung hanya diterangi cahaya bulan yang menyelinap di antara celah awan hitam. Padamnya lampu adalah tanda kami harus tidur. Namun, seperti biasa, anak-anak selalu punya cara membuat segala hal jadi seru. Diam-diam, beberapa siswa memfoto pose tidur para guru. Paginya mereka datang sambil tertawa lalu meminta maaf. Mengaku hanya iseng. Kami hanya bisa ikut tertawa, bukankah keusilan seperti itu muncul dari rasa nyaman dan keakraban?
Akhir dari kegiatan ini tidak membawa perpisahan yang dingin dan justru sebaliknya. Kami pulang dengan hati yang hangat. Setiap pengalaman, dari dalam truk, mandi di sungai, tinggal di rumah penduduk, memasak bersama, malam pentas seni yang meriah, meditasi keheningan, tidur dalam gelap, bangun pagi-pagi buta, hingga keusilan murid menjadi mozaik yang membentuk kenangan luar biasa.
Pelayanan komunitas bukan sekadar kegiatan. Itu adalah perjalanan jiwa, pelajaran hidup, dan pengalaman yang akan terus kami kenang. Afdeling VII bukan hanya sebuah tempat, tapi kini telah menjadi bagian dari diri kami.




Leave a Reply