Culture Shock di Tenera

Tahun pertama mengajar di Sekolah Tenera adalah tahun ajaran tidak terlupakan bagiku. Sebelumnya aku bekerja di unit Sebrang, sebuah sekolah bergengsi yang sebagian besar muridnya adalah Chindo. Sebagian besar nasabahku adalah orangtua mereka.

Saat di Tenera, aku mengajar murid-murid yang sebagian besar dari Batak. Dari bahasa dan cara bicara sudah berbanding terbalik. Saat hari pertamaku masuk sekolah sebagai guru, aku mencoba membaca mereka. Aku minta mereka memperkenalkan diri dan saat itu pula aku menyadari bahwa aku harus bicara keras dan lantang. Bukan untuk memarahi dengan nada tinggi tapi memang setelannya begitu. Hahaha.

Siswa-siswi Tenera sangat unik. Mereka tertib. Peka terhadap lingkungan dan kondisi orangtua, terlebih mereka yang tinggal di Afdeling. Setiap hari mereka bangun jam empat pagi, membantu orangtua di dapur atau sekadar menyeterika seragam karena listrik mati lebih awal. Setelah beres mereka menunggu dijemput truk sekolah. Mereka kadang dijemput jam setengah enam. Kehidupan mereka berbanding terbalik denganku.

Culture shock selanjutnya, guru dan murid di Tenera selalu membawa bekal, tak terbiasa jajan dan tidak dibiasakan. Dari berangkat sampai pulang sekolah, mereka menenteng bekal dan membawa botol minum masing-masing. Pemandangan ini benar-benar tidak pernah saya temui di sekolah lain.

Selain itu, yang sangat-sangat tidak terlupakan semasa mengajar di tahun pertamaku adalah menjadi guru pengampu mata pelajaran ekonomi. Saat itu, tiap malam aku belajar buku besar ekonomi sambil membuka Youtube melihat tutorial menyelesaikan soal yang tidak kupahami. Aku berusaha semampuku untuk menguasai mata pelajaran ini sambil berdoa bisa mengajar sesuai dengan jurusan saat kuliah.