
Aku masih ingat saat-saat SMA dulu, saat pertama kalinya bertemu dengan pacar pertama. Aku merasa seperti sedang bermimpi, tidak menyangka sekaligus tidak percaya kalau aku bakal punya pacar sebaik itu. Sungguh baik banget, penyayang, dan tampan tentunya haha.
Kami bertemu di sekolah. Waktu itu aku murid baru di sekolahnya, tepatnya kelas XII SMA. Aku langsung terkesan dengan senyumnya yang manis dan mata yang indah. Aku berdiri di depan kelas dan memulai berkenalan setelah itu aku bingung mau duduk di mana sebab tidak ada kursi kosong. Dia menawarkan kursinya.
“Duduk sini aja Mbak,” katanya.
Masya Allah baik kali lah Mas ini. Namun, kawan sebangkunya marah dan berkata dengan bahasa Jawa yang tidak aku pahami. Dia bilang begini: aja kayak kue lah Rip nyonge njagong karo sapa. Hahahaha sumpah aku gak tau itu dia ngomong apa tetapi artinya kurang lebih adalah ‘jangan kayak gitulah Rip, aku nanti ngobrol sama siapa?’.
Diajaknya aku duduk di sebelahnya kemudian kami mulai berbicara dan aku merasa seperti kami sudah kenal lama sekali. Dia juga mengajak dan memperkenalkan isi sekolah. Saat-saat itu sangat spesial bagi aku. Kami sering berjalan-jalan di sekitar sekolah. Berbicara tentang impian dan cita-cita.
Aku seperti menemukan sahabat sejati, seseorang yang memahami aku dengan baik. Kami juga sering belajar bersama. Aku merasa bisa belajar lebih baik dengan dia di sampingku.
Cinta pertama kami sangat manis dan polos. Dia cinta pertamaku dan aku cinta pertamanya. Kami sering bertukar pesan singkat dan aku merasa seperti sedang berada di awan. Setiap pagi dia selalu menjemputku berangkat sekolah. Kami juga sering kali melakukan kegiatan bersama, seperti menonton film, jalan-jalan ke pantai, mengerjakan tugas sekolah, dan makan bersama. Aku seperti hidup dalam dongeng dan idak ingin bangun dari mimpi itu.
Namun, seperti semua hubungan, kami juga memiliki masalah. Kami sering bertengkar tentang hal-hal kecil. Aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya tapi kami selalu menyelesaikan masalah dengan baik. Aku merasa kami memiliki hubungan yang sangat kuat dan tidak ingin kehilangan dia.
Kami punya komitmen. Apa pun masalah kami jangan pernah ada kata putus. Itulah kami, awet pacaran dan hubungan itu berlanjut sampai saat ini, dari 2009 sampai 2025. Kami sudah memiliki dua anak manis sekarang.
Ketika melihat ke belakang, aku menyadari bahwa cinta pertama itu sangat berharga. Aku belajar banyak tentang diri sendiri dan tentang hubungan. Aku menemukan bahwa cinta itu tidak selalu mudah, tapi sangat berharga. Aku tidak akan pernah melupakan kenangan-kenangan itu dan akan selalu menghargai waktu yang aku habiskan dengan pacar pertama.




Leave a Reply