
Perayaan HUT RI selalu menjadi kegiatan yang paling repot karena persiapannya yang sangat luar biasa. Menguras energi juga pikiran. Tenera selalu menjadi panitia, pengisi acara, dan tidak ketinggalan untuk mengikuti lomba. Semuanya harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin.
Seperti biasa, aku masuk dalam anggota paduan suara, drama dan kebagian ikut lomba karnaval bersama teman-teman yang lainnya mewakili Tenera. Kami mengangkat tema rakyat pedesaan dari berbagai daerah dengan rutinitas bekerja sehari-hari.
Dua minggu sebelum HUT kemerdekaan kami sudah menyiapkan yel-yel beserta gerakan yang akan kami tampilkan dalam lomba karnaval antarbidang atau departemen di Agricinal. Latihan dimulai sepulang kerja atau sehabis latihan paduan suara di sekolah. Di rumah pun aku berlatih keras setelah terpilih menjadi Pinru atau Pimpinan Regu. Rasanya beban cukup besar karena kunci kekompakan kami ada pada Pinru.
Tahun ini, suami juga ikut dalam anggota karnaval mewakili departemen traksi bersama teman-temannya, kami sah menjadi saingan lomba karnaval. Sejak saat itu semua berubah. Suami mulai memberi aba-aba genderang perang.
“Hei Tenera,” katanya. “Kalian semua nanti kami bantai. Traksi pasti juara 1.” Mendengar itu aku tidak tinggal diam dan aku balas dengan nada meremehkan.
Setiap hari ada saja kata-kata yang menyiratkan peperangan. Entah mengapa suami sangat percaya diri sekali dengan persiapan karnavalnya. Pulang kerja selalu terlambat sampai suatu hari aku bertanya karena penasaran.
“Apa sih yang kalian buat sampai seyakin itu juara 1 dan pulang pun selalu sore banget?”
“Ada deh. Pokoknya kalian kalah,” jawabnya. Mendengar jawaban itu aku merasa sedikit membara, sepertinya tim traksi memang serius ingin mengalahkan kami—karena memang Tenera sulit untuk dikalahkan.
Jiwa membara sebagai saingan mulai terlihat jelas di antara kami. Senggol bacok sering terjadi. Sindiran terus keluar dari mulutku. “Awas kalau gak juara 1 ya, semua kerjaan rumah kamu yang kerjain karena pulang telat terus,” kataku. Mungkin itu juga yang membakar semangatnya, kalau sampai tidak juara satu, bakal repot nantinya wkwkwk.
Hari yang ditunggu pun tiba. Kami sudah berbaris dan tampil dalam lomba karnaval bergantian dengan departemen lain. Lega rasanya sudah menampilkan hasil dari latihan dengan maksimal di depan dewan juri dan banyak penonton. Setelah melihat tampilan karnaval dan yel-yel traksi, aku langsung bergumam, ternyata suami sangat percaya diri karena dia dan teman-temannya membuat mobil truk dari barang bekas ini.
Jujur aku akui memang penampilannya keren. Mereka menggotong truk itu sampai ke depan, dikomandoi Pinru super kocak yang mengguncang perut semua penonton serta dewan juri.
Sudah bisa ditebak. Traksi juara sedangkan kami, Tenera, peringkat dua. Kami tetap bersyukur masih bisa mempertahankan gelar karnaval tahun lalu. Namun, pikiranku mulai kacau. Dalam hati, nanti di rumah aku pasti dibombardir dengan seribu cemoohan suami karena timnya juara. Tapi lega juga usaha dan waktunya tidak sia-sia. Jujur ikut bangga karena aku juga bagian dari traksi
Benar saja, tiba di rumah terdengar ejekan dari suami.
”Hei juara dua, kami juara satu wuahahaha.” Mendengar lontaran itu aku ingin tertawa tapi jiwa membara ini masih ada sehingga aku masih membalas ejekannya.
“Gak beda jauh juara satu atau dua. Biasa saja lah jangan sombong amat jadi orang,” balasku.
“Harus sombong lah. Kan kami juara 1 weeeeekkk. Kenapa? Panas ya karena bisa dikalahkan kami? Huuuu ada yang panas tapi bukan knalpot tapi yang juara dua.”
Betulan panas, sampai “praaaakkk”. Sapu lantai melayang dari tanganku lalu mendarat di lantai dengan kerasnya. Dia terdiam lalu bilang memuji yel-yel kami. Aku tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “untung ya kamu juara 1, kalau sempat gak juara 1 duduk manis aku seminggu.”
Selesai perang panas kami saat itu juga. Ternyata bersaing dengan suami sendiri itu tidak enak. Setiap hari sindir-sindiran dan setelah pengumuman pemenang aku di-bully habis-habisan. Rasanya kalau dilanjutkan akan jadi perang dunia ke-3 dalam rumah tangga. Untungnya aku tidak baperan dengan suami dan dia pun masih memberi pujian walaupun terpaksa.




Leave a Reply