Dipaksa Waras di Negara yang Gila

Sudah baca headline hari ini, para pembaca Nyalanya???

Apa yang terpikir di kepala kalian tentang situasi negara kita yang beberapa saat kemarin baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-80. Mirisss! Pasti. Hampir setiap hari kita dicekoki berita memuakan soal Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tapi lebih cocok disebut Dewan Penindas Rakyat dengan berbagai kebijkan yang mereka buat.

Kelakuan mereka benar-benar di luar nalar. Masih ingat insiden joget usai sidang? Menurut wakil Ketua DPR Adies Kadir, joget dilakukan setelah acara resmi selesai. Musik memang sengaja diputar sebagai hiburan ringan dan aksi itu spontan karena terbawa suasana. Dalih receh ini justru makin menunjukan bahwa mereka tidak tahu apa itu tenggang rasa. 

Saat rakyat sedang tercekik ekonomi karena pajak meningkat di banyak aspek, PPN jadi 12%, hingga muncul pajak-pajak kecil yang bikin rakyat tambah susah. Lalu dengan entengnya bilang “kami terbawa suasana”. Joget-joget, pesta pakai fasilitas negara yang duitnya jelas dari perasan pajak rakyat, itu bukan wakil rakyat, tapi penjahat.

Belum selesai sampai di sana. Nafa Urbach, Sri Mulyani, dan Ahmad Syahroni blunder statement. Kalau jalanan macet, atasi dan cari solusinya bukan malah mikir diri sendiri dengan membuat aturan ada tunjangan rumah untuk anggota DPR. Rakyat juga nggak suka macet, bukan cuma DPR.

Padahal jelas demo yang terjadi pada 28 Agustus 2025 itu lahir dari rakyat yang muak. Dari rakyat yang sudah terlalu lama ditindas. Dari rakyat yang tidak tahan lagi melihat pejabat makin kaya dengan perasan terakhir keringat mereka.

Dan puncaknya, tragedi mengenaskan, Affan Kurniawan, seorang driver ojek online, meregang nyawa dilindas kendaraan Brimob saat aksi. Hari ini, seluruh rakyat Indonesia ikut menangis untuk Affan.

Inilah potret negeri yang katanya demokratis, tapi rakyatnya dipaksa tunduk. Inilah negeri yang katanya merdeka tapi rakyatnya ditindas pajak, dibungkam, bahkan ditabrak sampai mati alat negara. Kita dipaksa waras di negara yang gila. Dan kalau kegilaan ini dibiarkan, jangan salahkan rakyat kalau besok bukan hanya Senayan yang bergetar, tapi seluruh negeri akan bersuara.