Ayam Tetangga Sumber Mimpi Buruk

Dok.Wikihow

Ayam itu masuk lagi. Sudah tak terhitung berapa kali dia masuk ke dalam rumah, tapi kali ini sungguh di luar batas kesabaranku. Ia buang kotoran di lantai ruang tamu lalu dengan santainya melompat ke tempat tidur dan meninggalkan jejak menjijikkan di sana. Darahku mendidih. Aku tangkap ayam itu dan tanpa pikir panjang aku lemparkan sekuat tenaga. Tubuhnya menghantam dinding, tak bergerak. Mati. 

Ayam tetangga mati di tanganku. Itu seperti kasus pembunuhan! Aku bingung harus diapakan bangkai itu. Ide terlintas.

Setiap sore aku antre BBM di SPBU. Akhirnya, aku putuskan membawa ayam itu ke suatu tempat bernama Jembatan Mumbang. Pikirku, biarlah dimakan binatang buas penunggu sekitar jembatan itu. Saat melintasi jembatan, aku lempar ayam itu ke kiri sambil menyetir. Tidak pas, malah memantul masuk kembali ke sampingku. Aku ambil lagi, lalu aku lempar ke kanan. Kali ini berhasil. 

Malam harinya, setelah lelah beraktivitas, aku merebahkan diri. Baru satu jam tertidur, aku merasa tindihan. Atau mungkin mimpi buruk? Yang jelas, aku dikejar-kejar seraya dikepung suara kuntilanak bercampur desir angin kencang meniup horden kamar. Selain suara emak-emak yang menakutkan, ada juga suara anak kecil di balik jendela yang menggedor-gedor.

Aku mencoba membaca ayat-ayat Allah yang sulit-sulit, tapi patah-patah. Bahkan semakin ditertawai karena bacaanku salah-salah. Rasanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, tapi suaraku tak keluar. Akhirnya, aku terbangun juga. Langsung teringat pada ayam yang aku buang sore tadi. Aku segera mengambil air wudu kemudian salat, berdoa memohon ampun kepada Allah. 

Paginya, aku langsung pergi lagi ke SPBU untuk mengisi BBM kembali. Dalam perjalanan pulang, aku mampir di jembatan itu. Aku lihat bungkusan ayam kemarin masih tergantung di pohon di bawah Jembatan Mumbang. Akhirnya, aku beranikan diri mengambilnya lagi dengan penuh kehati-hatian karena ternyata tempatnya jurang curam dan licin. 

“Hap! Dapat kau, sumber mimpiku semalam,” bisikku. “Maaf ya, bukan maksud mengganggu tempatmu. Aku bermaksud agar menjadi makanan binatang buas seperti biawak, ular, dan lain-lain.” 

Anehnya, bangkai ayam itu belum ada aroma busuk sama sekali. Aku bawa pulang, lalu kuletakkan di kebun orang yang punya banyak anjing, biar jadi makanan anjing-anjing itu. Semoga kali ini aman.