Air Mata Negeriku

Dok.Wikihow

Seperti rumput di musim hujan yang hijau dan segar, memberi kesejukan untuk penghuni alam semesta. Seiring dengan berjalannya waktu, rumput akan menjadi layu dan akhirnya membusuk tapi memberi tunas baru untuk tumbuh kembali. 

Mirip dengan bulan Agustus awal. Ada semangat membara menyambut 80 Tahun Indonesia merdeka. Dengan pernak-pernik merah putih melambangkan keberanian dan kesucian hati para  penghuni negeri.

Namun, di akhir Agustus, selepas perayaan hari ulang tahun ke-80, percikan panas muncul, memudarkan semangat kemerdekaan yang membara. Panas itu merambat. Dari satu titik ke titik lain lalu menyulut menjadi momok bagi penghuni negeri tercinta

Berbagai ide cemerlang untuk melakukan sebuah orasi untuk negeri yang bermartabat, dengan sebuah harapan untuk meraih mimpi yang lebih indah untuk menjadi tempat yang kondusif dan ada ketenangan. Namun apa yang terjadi?? Negeriku sesak. Dehidrasi.  Seperti memberi pertolongan bagi yang semakin sulit bernapas akibat cekik dari berbagai arah.

Para anggota sirkus memainkan perannya. Sebagai masyarakat awam mulai merenung dengan kejadian hampir di seluruh penjuru negeri. Awalnya aku melihat dengan kaca mata ketidakpuasan. Semakin hari mencuat duri-duri yang telah ditabur.

Durinya tertancap di beberapa titik, melukai negeri. Mengeluarkan darah lalu menghasilkan air mata kesedihan. Agustus akhir menuju September negeriku masih mencekam. Air mata terus mengalir, dada sesak, jiwa ketakutan  sehingga kehidupan semakin sengsara dan menyedihkan 

Negeriku menangis pilu. Tidak dapat berdiri kokoh seperti kelumpuhan yang tidak terobati. Kebingungan dengan penguasa, rakyat kecil menjadi korban, terus mengais rezeki, dan susah payah mendapat sesuap nasi. Setiap hari negeriku terus berduka. Si jago merah berkobar, melahap banyak bangunan kokoh.

Apakah ini tujuan yang akan dicapai? Siapa yang bertanggung jawab? Tentu kita semua warga negara harus instropeksi. Jangan percikkan bunga api yang akan menghanguskan negeri tercinta karena angin sedang bertiup dari segala arah. Menjaga lisan dan keadaan agar tercipta suasana nyaman tenang. Damai negeriku sejahtera hidup insan penghuni Indonesia.